Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Kamis, 14 November 2013

Kitab Sholat - Mengubur Jenazah

Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim



***

ويدفن في لحد مستقبل القبلة ويسل من قبل رأسه برفق ويقول الذي يلحده بسم الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم ويضجع في القبر بعد أن يعمق قامة وبـــسطة ويسطح القبر ولا يبنى عليه ولا يجصص ولا بأس بالبكاء على الميت من غير نوح ولا شق جيب ويعزى أهله إلى ثلاثة أيام من دفنه ولايدفن اثنان في قبر إلا لحاجة.

Jenazah dikuburkan dalam liang lahat dengan posisi menghadap kiblat dan dilepaskan dari bagian kepalanya dengan lemah lembut. Orang yang memasukkannya ke dalam liang lahat mengucapkan,

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلـَّــةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلـَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلـَّـمَ
Dengan menyebut nama Allah dan berdasarkan agama Rosululloh -shollalloohu ‘alaihi wasallam-.

Jenazah dibaringkan di dalam kubur setelah kubur digali sesuai panjang dan luasnya.

Setelah itu, kubur diratakan dan tidak boleh didirikan bangunan di atasnya maupun dikapur.

Tidak apa-apa menangisi mayat selama dilakukan tanpa meratap dan merobek-robek baju.

Ta’ziah kepada keluarga si mayat dilakukan selama tiga hari semenjak penguburannya.

Tidak boleh menguburkan dua orang dalam satu liang lahat kecuali karena suatu kebutuhan.

***

Penjelasan:

1.      Muslim (966) meriwyatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqosh -rodhiyalloohu ‘anhu- bahwa dia berkata pada waktu sakit yang menghantarkannya menuju kematian, “Buatkanlah untukku liang lahat dan pancangkanlah untukku bata, sebagaimana yang dilakukan untuk Rosululloh -shollalloohu ‘alaihi wasallam-.”

2.      Abu Dawud (3211) meriwayatkan dengan sanad shohih bahwa Abdulloh bin Yazid Al-Hathmy  –salah seorang sahabat–  memasukkan Al-Harits ke dalam kubur dari bagian kedua kaki kubur dan berkata, “Ini termasuk sunnah.”

3.      Abu Dawud (3213) dan Tirmidzi (1046) meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar -rodhiyalloohu ‘anhumaa- bahwa jika Nabi -shollalloohu ‘alaihi wasallam- meletakkan mayat di dalam kubur, beliau mengucapkan,

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ.
Dengan nama Allah dan berdasarkan sunnah Rosululloh.

4.      Jenazah dibaringkan di dalam kubur setelah kubur digali sesuai panjang dan luasnya. Yaitu sesuai dengan tinggi manusia yang tingginya standar dan dalam posisi mengangkat kedua tangannya ke atas. Abu Dawud (3215) dan Tirmidzi (1713) –dia berkata, “Hasan shohih.”–  meriwayatkan dari Hisyam bin ‘Amir -rodhiyalloohu ‘anhu- dari Rosululloh -shollalloohu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda tentang orang-orang yang terbunuh dalam Perang Uhud, “Galilah lubang untuknya, luaskanlah dan perindahlah.

5.      Kubur harus diratakan dan tidak boleh didirikan bangunan di atasnya maupun dikapur. Larangan tentang hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (969) dan selainnya bahwa ‘Ali bin Abi Tholib -rodhiyalloohu ‘anhu- berkata kepada Abul Hayyaj Al-Asady, “Bukankah saya mengutusmu seperti ketika Rosululloh -shollalloohu ‘alaihi wasallam- mengutusku? Janganlah meninggalkan gambar kecuali engkau menghapusnya dan juga kubur yang tinggi kecuali engkau meratakannya.”

Maksud gambar di sini adalah gambar yang memiliki ruh.

Maksud “Engkau meratakannya” adalah meratakannya dengan tanah dan meninggikannya sedikit.

Muslim (970) meriwayatkan dari Jabir -rodhiyalloohu ‘anhu-, dia berkata, “Nabi -shollalloohu ‘alaihi wasallam- melarang untuk mengapur kuburan, duduk di atasnya dan mendirikan bangunan di atasnya.

Maksud mengapur adalah meletakkan kapur di atasnya. Jika hal ini saja tidak boleh, terlebih lagi meletakkan batu pualam dan selainnya, meninggikan kubur dan menghiasinya, setelah ada larangan nyata dari Rosululloh -shollalloohu ‘alaihi wasallam-. Tidak diragukan bahwa hal ini haram karena bertentangan dengan sunnah dan mengandung penyia-nyiaan harta yang dilarang menurut syari’at.

6.      Tidak apa-apa menangisi mayat selama dilakukan tanpa meratap dan merobek-robek baju. Bukhori (1241) dan Muslim (2315, 2316) meriwayatkan bahwa Rosululloh -shollalloohu ‘alaihi wasallam- menangisi anaknya Ibrahim sebelum kematiannya. Tatkala melihatnya, beliau merelakannya dan berkata, “Air mata ini mengalir dan hati pun bersedih. Kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhoi Rabb kita. Sesungguhnya kami bersedih karena berpisah denganmu, wahai Ibrahim.

Muslim (976) meriwayatkan dari Abu Huroiroh -rodhiyalloohu ‘anhu-, dia berkata, “Nabi -shollalloohu ‘alaihi wasallam- menziarahi kuburan ibunya. Beliau lalu menangis dan membuat orang-orang yang berada di sekitarnya ikut menangis.”

7.      Meratap ( النياحة ) adalah setiap perbuatan atau perkataan yang mengandung sikap menampakkan putus asa, tidak terima dan tidak tunduk pada ketetapan Allah -Subhaanahu Wata’ala-. Diantaranya adalah merobek saku, memukul wajah dan selainnya. Semua itu diharamkan dalam syari’at Allah -Subhaanahu Wata’ala-.

Muslim (935) meriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy’ary -rodhiyalloohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollalloohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

النَّائِحَةُ اِذَا لَمْ تَــتُـبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْــقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ.
Orang yang meratap jika tidak bertaubat sebelum kematiannya, maka dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan memakai jubah dari getah dan pakaian dari kudis.

Artinya, anggota-anggota badannya dipenuhi kudis dan gatal-gatal yang menutupi badannya sebagaimana pakaian menutupi.

Maksud getah dalam hadits di atas adalah getah pohon yang dilumurkan pada unta jika berkudis.

Bukhori (1232) meriwayatkan dari ‘Abdulloh bin Mas’ud -rodhiyalloohu ‘anhu-, bahwa Nabi -shollalloohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَيْسَ مِنـَّـا مَنْ لَطَمَ الْخُدُوْدَ وَشَقَّ الْــجُيُوْبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْــجَاهِلِيَّةِ.
Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul pipi, merobek saku, dan memanggil dengan panggilan jahiliyyah.

Hadits di atas menyebut “merobek saku” karena merobek pakaian dimulai dari saku.

Maksud panggilan jahiliyyah adalah perkataan yang diucapkan oleh orang-orang jahiliyyah.

8.      Ta’ziah kepada keluarga si mayat dilakukan selama tiga hari semenjak penguburannya. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1601) dari Nabi -shollalloohu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي اَخَاهُ بِمُصِيْبَةٍ اِلَّا كَــسَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ مِنْ حُلَـلِ الْكـَـــرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Apabila seorang mu’min berta’ziah kepada saudaranya yang tertimpa musibah, niscaya Allah -Subhaanahu Wata’ala- akan memakaikannya perhiasan-perhiasan kemuliaan pada hari kiamat.

Ta’ziah adalah mendorong orang yang tertimpa musibah agar bersabar dan menghiburnya, seperti mengatakan, “Semoga Allah memberimu pahala yang besar.”

Makruh melakukan ta’ziah setelah tiga hari, kecuali bagi musafir. Sebab, biasanya kesedihan telah berakhir sehingga tidak baik mengungkitnya kembali. Demikian juga, makruh mengulangi ta’ziah. Sebaiknya ta’ziah dilakukan setelah penguburan karena keluarga mayat sibuk mempersiapkannya, kecuali jika mereka sangat bersedih, maka mendahulukannya lebih utama sebagai upaya untuk menghibur mereka.

9.      Tidak boleh menguburkan dua orang dalam satu liang lahat kecuali karena suatu kebutuhan. Bukhori (1280) meriwayatkan dari Jabir bin Abdulloh -rodhiyalloohu ‘anhumaa- bahwa Nabi-shollalloohu ‘alaihi wasallam- mengumpulkan dua orang laki-laki dari orang-orang yang terbunuh dalam Perang Uhud.



Walloohu A'lam Bishshowaab
Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin

Wassalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh

Link yang bersangkutan: KITAB AT-TAQRIB


<'@II<    maH-Taj    ^_^ !!            (11 Muharrom 1434 H)

0 PENDAPAT:

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates