Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Sabtu, 21 April 2012

Bahasa IBU


Assalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Sagala puji-pujian mung Gusti Alloh Ta'ala anu ngagaduhannana anu Ngarajaan alam sareng eusina. Pupujian sareng syukuran hayu urang haturkeun ka Gusti Alloh, ku lantaran Rahmat sareng Hidayah ti Gusti Alloh, urang tiasa maca sareng nulis, urang aya dina kayaan sehat tur jag-jag, urang dipaparinan mangpirang-pirang ni'mat terutama ni'mat Iman sareng ni'mat Islam dina hate. Alhamdulillah...

Hormat kaagungan sareng kasalametan mugia tetep dipaparinkeun ka Junjungan urang sadaya, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-, ka Kulawargina, sareng ka sahabat-shabatna.


Dina danget ayeuna, abdi bade nulis seputar pikiran abdi dina bag-bagan "BAHASA IBU". (sekarang, saya akan menulis fikiran ana tentang "BAHASA IBU"). Mari kita lihat cerita berkut:

Cerita 1
Hiji mangsa, abdi ngobrol sareng baturan, kinten2 siga kieu obrolan abdi sareng anjeuna,
Abdi (saya): "A, Sebenarnya Aa itu aslinya orang mana..??"
Anjeuna(dia): "Asli orang sini (Tangerang *red), lahir di sini, besar di sini."
Abdi: "Berarti bisa dong, ngomong Bahasa Sunda?"
Anjeuna: "Hemmm... Hemmm... (dengan wajah malu) Nggak Bisa, Eh bisa deh, tapi sedikit.."
Abdi: "Ko nggak bisa, Kan harusnya bisa dong, lancar dong, iya kaaan. Aa kan lahir, besar dan hidup di sini...???"
Anjeuna: "Dari kecil saya tidak diajarin bahasa Sunda, ayah dan Ibu nggak ngomong Sunda sama saya, Bahasa Indonesia terus, jadinya yaaa gituuu deh.."
Abdi: "Kok Tidak diajarin.. kenapa??? kan Orangtua Aa juga asli orang sunda"
Anjeuna: "Kata mereka, Bahasa Sunda disini (Sunda Banten *red) Kasar.. Jadi daripada kata2nya kasar, mending pakai Bahasa Indonesia saja."
Abdi: "Ouuhh gituuu.. Tapi seharusnya khan tetep harus bisa, Bahasa Sunda itu BAHASA IBU Aa"

=> Obrolan abdi sareng anjeuna ngalanjut...

Cerita 2
Dina Mangsa Lebaran Fitri, rata-rata jalmi anu ngarantau pasti mudik atawa "Pulang Kampung". Salah sahijina baturan Abdi di Lembur, asli urang Kab.Majalengka, Jawa Barat. Ngarantau di Jakarta. Dina mangsa harita abdi silaturahmi ka bumina, abdi ngobrol sareng anjeuna, kieu kinten2 obrolanna,
Abdi: "A, kumaha kabarna yeuh, urang Jakarta..??" (ana pake bahasa Sunda)
Anjeuna: "Alhamdulillah... Sehat.. Gimana dengan lu Tatang..??" (Ana kaget, ko anjeuna ngajawabna make bahasa Indonesia..)
Abdi: "Alhamdulillah damang A. Damel di daerah mana, di Jakartana?"
Anjeuna: "Kerja di daerah Cawang. Oh enya Tang, pakai Bahasa Indonesia saja yaaa, gue udah lupa nih bahasa Sundanya."
Abdi: "Ouuhh Cawang. Haaahhh, LUPA..??? Balagu teuing anjeun teh, di Jakarta kakara sa taun ge kurang, nyarios tos gue-gue, LUPA deui ka bahasa Sunda..."
Anjeuna: "Beneran Tang, .........."
Abdi: "(di hate) Weeek..."

Ahhh, nyaan heh, asa kumaha hate teh, mireng jalmi kawas dina dua carita di luhur.. Asa nyeset hate. Asli urang sunda, lahir sareng hirup di daerah Sunda TEU TIASA nyarios sunda. Urang sunda lahir sareng hirup di daerah Sunda, ngan gara-gara ngarantau sababaraha bulang we, sampe hilap ka bahasa Sundana. Astghfirullooh...

OKEH.. Bahasa Indonesia Mode "ON" hehehe
Saudaraku, Ngerti nggak sih apa yang ana tulis di atas..?? Bagi yang ngerti, ya syukur deh, tapi bagi yang tidak mengerti, maaf yaa ana tidak menyediakan terjemahannya, Afwan jiddan. Tapi ana hanya bisa memberikan beberapa gambaran dan pendapat dari dua contoh cerita diatas.

Sebelum berlanjut ke pembahasan, Tau nggak sih maksud dari "BAHASA IBU" itu sendiri? Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Bahasa Ibu memiliki definisi "Bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya." Untuk lebih mudahnya, Bahasa dari daerah asalnya seseorang. Jika asalnya dari daerah Sunda, maka Bahasa Ibunya adalah bahasa Sunda. Jika asalnya dari daerah Jawa, maka Bahasa Ibunya adalah bahasa Jawa, dst.

Nah, pada contoh dua cerita di atas, ternyata kasus seperti itu tidak sedikit. Banyak orang merasa tidak bangga dengan Bahasa Ibu atau bahasa daerah asal mereka. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris yang katanya bahasa Internasional.. Ana mencontohkan dengan bahasa Sunda, karena ana sendiri berasal dari daerah Sunda yaitu Majalengka, Jawa Barat dan sekarang ana tinggal di Tangerang, Banten. Dan dua cerita diatas adalah pengalaman ana sendiri.

Pada cerita pertama teman ana itu lahir, hidup dan besar di daerah yang menggunakan bahasa Sunda, tapi dia tidak bisa (hanya sedikit dia bisa) menggunakannya, karena dia tidak pernah diajarkan bahasa sunda dan selalu diajak bicara dengan menggunakan bahasa Indonesia (bahasa Nasional) oleh orang tuanya, alasannya yang menurut ana sih sangat aneh, yaitu 'karena bahasa Sundanya kasar, Sunda daerah Banten'. Emang salah yaa, kalau yang digunakan adalah bahasa Sunda yang kasar tapi dilingkungan yang memang masyarakatnya menggunakan atau terbiasa dengan bahasa sunda yang kasar...??? Menurut ana adalah WAJAR dan tidak masalah. Dan ukuran kasarnya seperti apa? kalau ukurannya dibandingkan dengan daerah sunda yang lain, seperti Majalengka, Sumedang, Bandung, ataupun Cianjur. Maka, tidak akan bisa dibandingkan, karena lain daerah, ya pasti lain bahasa. Contohnya Bahasa yang digunakan adalah Sunda Banten, maka jika orang Banten tinggal di Banten dan menggunakan bahasa Sunda Banten, ya tidak disebut kasar. Kecuali jika orang Banten, kemudian berkunjung ke daerah Cianjur, lalu orang banten bicara menggunakan Sunda Banten, maka pasti kata orang Cianjur omongan orang banten kasar, karena tolak ukur dan daerahnya ada di daerah Cianjur yang kalau bisa dibilang sih Sunda Cianjur adalah Sunda yang lebih Halus daripada Sunda Banten. Lain halnya jika orang Cianjur yang lahir dan hidup di Cianjur, tapi bicaranya menggunakan sunda Banten, maka baru bisa dibilang kasar. Atau contohnya Orang Jawa Cirebon jika berkunjung ke Solo atau Jogja maka jika orang Cirebon itu bicara dengan Jawa Cirebon di daerah Solo, pasti orang Solo berkata orang Cirebon itu ngomongnya kasar. Tapi jika orang cirebon tinggal di Cirebon, hidup di cirebon, kemudian bicara menggunakan bahasa Jawa Cirebon, ya TIDAK KASAR. Karena memang itulah bahasa yang biasa mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka, "Bahasa Ibu" mereka.

Pada Cerita Kedua, teman ana itu lahir, hidup dan besar di Daerah Sunda, Majalengka, Jawa Barat. Tapi dia bilang LUPA pada bahasa Sunda, hanya karena dia merantau ke JAKARTA. Padahal dia selalu memakai bahasa Sunda selama di Desa dan tidak ada setahun teman ana itu di JAKARTA, tapi bahasanya sudah Sok, Sok Jakarta. Gue-gue lah, Lu-lu laah, atau apapun itu. Bahasa Indonesia katanya. Yang ana tidak habis fikir adalah dia bilang "LUPA". Ana tidak tahu persis apa alasan kenapa dia bisa lupa dengan Bahasa Sunda, mungkin sama seperti alasan di atas yaitu bahasanya KASAR, atau malu, atau gengsi, atau apalah alasannya. Tapi yang jadi masalah adalah Bagaimana bisa sampai lupa yaa, hidup di sunda lebih dari 18 tahun, LUPA hanya karena hidup di Jakarta kurang dari setahun. Heuheuheu LUCUNYA....

Saudaraku,
Ingatlah ini, SANGAT PENTING kita bisa berbicara dengan BAHASA IBU. Bahasa daerah kita sendiri. Indonesia itu sangat luas dengan keaneka ragaman kehidupannya. Mempunyai banyak bahasa, banyak budaya, banyak ciri khas, banyak adat istiadat, banyak kultur. Pokoknya BANYAK deh. Dan itu semua Sangat Penting. Dan kita HARUSnya BANGGA dengan bahasa dan budaya yang kita miliki. Karena jika kita tidak bangga dengan bahasa dan budaya IBU yang kita miliki, maka siapa lagi yang akan bangga???

Kalau sepengetahuan ana sih, Kita pasti akan belajar Bahasa Indonesia, baik melalui sekolah, melalui orang baru (tamu, perantau), ataupun melalui media elektronik. Jadi JANGAN MALU menggunakan Bahasa Ibu. Kau orang Sunda, bicaralah bahasa Sunda dengan sesama orang Sunda. Kau orang Jawa, maka bicaralah bahasa Jawa dengan sesama orang Jawa. Kau Orang Padang, maka bicaralah bahasa Padang dengan sesama orang Padang, dan seterusnya. Dan Jika kau orang Sunda, orang Jawa, orang Padang, orang Irian, orang Sulawesi, orang Kalimantan, bertemu dalam suatu kesempatan, maka BARU Bicaralah dengan menggunakan Bahasa Indonesia, Bahasa Nasional RI. Jangan kau lupakan "BAHASA IBU"mu...!!!

Dan Harusnya kita lebih bangga dengan Bahasa Daerah dan Bahasa Nasional kita sendiri daripada dengan bahasa Inggris yang katanya bahasa Internasional. Dan SATU lagi yang sangat penting, JIKA KAMU MUSLIM, ada satu bahasa lagi yang HARUSNYA kamu bisa, yaitu BAHASA ARAB. Karena AL-QURAN Kitab Suci Umat Islam, menggunakan BAHASA ARAB...

Ana akhiri dulu potingan ini. Semoga apa yang ana sampaikan ini bisa bermanfaat untuk siapa saja yang berkenan membacanya atau tidak sengaja membacanya. Ana mohon maaf jika ada tulisan-tulisan ana yang menyinggung. Sungguh ana tidak ada niat untuk menyinggung siapa pun. Ini hanya pandangan ana tentang Bahasa.

Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah. Ammiin...

Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin


Wassalaamu'alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh


<'@II<     maH-Taj     ^_^ !!           (29 Jumadil Awal 1433 H)

6 PENDAPAT:

Nhinis mengatakan...

Sepatuuuuu !
Sepakat dan Setujuu :)

Gunakanlah bahasa ibu biar budaya kita tdk tergilas oleh zaman modern.

Salam blogger :)

Search ilmu mengatakan...

bener sekali ,, saya sangat setuju

Mugniar mengatakan...

Iya sih temannya aneh koq belum setahun sudah lupa sama bahasa daerah sendiri. Masalah kasar-halus saya tdk setuju juga. Karena itu hanya perbedaan dialek.

Kalo di daerah saya, ada beberapa dialek dalam berbahasa Bugis misalnya. Ada yang bicara dengan pelan mengalun tetapi ada juga daerah yang pemakai bahasanya berbicara dengan dialek seperti membentak2. Menurut saya itu malah kekayaan budaya kita. Tak perlu malu atau risih berlebihan.

Ayah saya, berasal dari Soppeng yang memakai bahasa Bugis dengan pelan lagi mengalun. Suami saya dari Sidrap yang penduduknya berbahasa Bugis dengan dialek keras.

Bagi saya santai2 saja. Saya justru menikmatinya sebagai kekayaan budaya. Dialek bukan berarti sifat. Di mana2 orang yang sifatnya kasar dan halus. Yang berbahasa daerah dengan pelan pun ada tukang jagal di situ. Jadi sebagai manusia dewasa, selayaknya kita memisahkan dialek dan sifat.

Nice posting ... ^__^

Tatang Tajudin Ibnu Supyan mengatakan...

@Nhiis n SI: Setujuuuu.. hohoho
@Mugniar: Iyaa bener, dialeknya atau logat atau aksennya yang berbeda tapi bahasanya satu. seperti bahasa Bugis, Sunda juga memiliki berbagai macam logat... Terima kasih untuk sharenya.. hohoho

Millati Indah mengatakan...

Kalaupun gak diajarin, pasti bisa juga kalau sering ngobrol sama teman se-komplek. Banyak kok yang kaya gitu.
Saya sih Alhamdulillah masih bisa Bahasa Jawa biarpun udah bertahun-tahun merantau.

Tatang Tajudin Ibnu Supyan mengatakan...

@Millati: Yang terpenting jangan lupakan Bahasa Ibu. Alhamdulillaah kalau masih bisa bahasa ibunya. Prok... prok... prok... (tepuk tangan ^_^ !!)

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates