Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Sabtu, 17 September 2011

Kitab Sholat - Sunah Haiat Sholat

Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim


***

وهيآتها خمسة عشر خصلة رفع اليدين عند تكبيرة الاحرام وعند الركوع والرفع منه ووضع اليمين على الشمال والتوجه والاستعاذة والجهر في موضعه والاسرار في موضعه والتأمين وقراءة السورة بعد الفاتحة والتكبيرات عند الخفض والرفع وقول سمع الله لمن حمده ربنا لك الحمد والتسبيح في الركوع والسجود ووضع اليدين على الفخذين في الجلوس يبسط اليسرى ويقبض اليمنى الا المسبحة فانه يشير بها متـشهدا والافتراش في جميع الجلسات والتورك في الجلسة الاخيرة والتسليمة الثانية.

Sunnah haiat dalam mengerjakan sholat ada lima belas, yaitu:
1.           Mengangkat kedua tangan ketika takbirotul ihrom, ruku’, dan i'tidal.
2.           Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.
3.           Membaca do’a iftitah.
4.           Membaca isti’adzah.
5.           Mengeraskan bacaan ketika sholat jahr dan memelankan bacaan ketika sholat sirr.
6.           Membaca amin.
7.           Membaca surat lain setelah membaca Al-Fatihah.
8.           Bertakbir ketika hendak ruku’ dan bangun dari ruku’.
9.           Mengucapkan (سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لـَكَ الـْحَمْدُ)
10.       Membaca tashbih dalam ruku’ dan sujud.
11.       Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha ketika duduk.
12.       Menggenggam jari-jari tangan kanan, kecuali jari telunjuk dalam bertasyahhud, dan mengembangkan jari-jari tangan kiri.
13.       Duduk iftirosy dalam semua duduk.
14.       Duduk tawarruk pada saat duduk terakhir.
15.       Melakukan salam kedua.

***

Penjelasan :

1.      Sunnah haiat adalah amalan sunnah dalam sholat yang apabila terlupa tidak perlu dilakukan sujud sahwi.

2.      Mengangkat kedua tangan ketika takbirotul ihrom, ruku’, dan i'tidal merupakan sunnah haiat. Bukhori (705) dan Muslim (390) meriwayatkan dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhumaa-, dia berkata, “Saya melihat Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- membuka sholat dengan takbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir sehingga keduanya sejajar dengan kedua bahu. Jika bertakbir untuk ruku’, beliau melakukan semisalnya. Jika mengucapkan sami’alloohu liman hamidahu, beliau melakukan semisalnya dan mengucapkan Robbanaa lakal-hamdu. Beliau tidak melakukannya ketika sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud.”

3.      Dasar meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (401) dari Wail bin Hijr -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa dia melihat Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengangkat kedua tangannya ketika melakukan sholat, kemudian meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.

4.      Mengenai membaca do’a iftitah, Muslim (771) meriwayatkan dari Ali -rodhiyallohu ‘anhu- dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Apabila mendirikan sholat, beliau mengucapkan,

وَجَّهْتُ وَجْهـِيَ لِلـَّذِيْ فـَطـَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأ َرْضَ حَنِيْفـًا وَمَا اَنَا مِنَ اْلمُشـْرِكِيْنَ اِنَّ صَلاَتِيْ وَنـُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ  ِللهِ رَبِّ اْلعَالـَمِيْنَ لاَ شـَرِيْكَ لـَهُ وَبـِذ َلِكَ ا ُمِرْتُ وَا َنَا مِنَ الـْـمُسْلِمِيْنَ.
Kuhadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya sholat, ibadah, hidup dan matiku aku serahkan kepada Allah Robb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk orang yang berserah diri.

(وَجَّهْتُ وَجْهـِيَ) artinya: saya sengaja beribadah.
(فـَطـَرَ) artinya: memulai penciptaannya.
(حَنِيْفـًا) artinya: condong kepada agama yang benar.
(نـُسُكِيْ) artinya: ibadahku dan semua pendekatan diri kepada Allah.

5.      Dasar membaca isti’adzah adalah firman Allah -Subhaanahu Wata’ala-,

فـَاِذ َا قـَرَأ ْتَ الـْـقـُرْاٰنَ فـَاسْتـَعِذ ْ بـِاللهِ مِنَ الشـَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ  {۹۸}

Apabila membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk.
(An-Nahl [16]: 98)

6.      Bacaan dikeraskan dalam sholat Shubuh, dua roka’at pertama sholat Maghrib dan ‘Isyaa’, sholat Jum’at, sholat ‘Idul Fitri, sholat ‘Idul Adhha, sholat Khusuf (gerhana bulan), sholat Istisqo’, sholat Tarowih, sholat witir pada bulan Romadhon, serta dua roka’at thowaf pada malam hari dan waktu shubuh. Semua akan dijelaskan pada tempatnya.

Sholat sunnah muthlaq pada malam hari, bacaannya pertengahan antara sir dan jahr. Allah -Subhaanahu Wata’ala- berfirman,

وَلاَ تـَجْهَرْ بـِصَلاَتِكَ وَلاَتـُخَافِتْ بـِهَا وَابْتـَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبـِيْلاً {۱۱۰}

Jangan mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan jangan pula merendahkannya serta carilah jalan tengah di antara kedua itu.
(Al-Isroo’ [17]: 110)

Yang dimaksud sholat dalam ayat di atas adalah sholat malam. Selain sholat-sholat yang disebutkan, maka dilakukan dengan sirr (bacaan pelan).

Hal itu ditunjukkan oleh berbagai hadits, di antaranya:

Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (735) dan Muslim (463) dari Jabir bin Muth’im -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Saya mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- membaca surat Ath-Thur ketika sholat Maghrib.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (733) dan Muslim (463) dari Al-Barro’ bin ‘Azib -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Saya mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- membaca surat At-Tiin ketika sholat Isya’. Saya tidak pernah mendengar seorang pun yang lebih baik suara dan bacaannya selain dia.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (739) dan Muslim (449) dari hadits Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhumaa- tentang kehadiran jin. Mereka mendengar Al-Quran dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Di dalam kisah ini disebutkan, “Beliau mengerjakan sholat Shubuh bersama para shahabatnya. Tatkala mendengar Al-Qur’an, mereka diam memperhatikannya.”

Hadits-hadits ini menunjukan bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengeraskan bacaannya sehingga orang yang hadir bisa mendengar bacaannya.

Hadits yang menunjukkan bacaan sirr pada selain sholat yang disebutkan tadi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (713) dari Khobbab -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa seseorang bertanya kepadanya, “Apakah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- membaca bacaan ketika sholat Zhuhur dan ‘Ashar?” Dia menjawab, “Ya.” Orang tadi bertanya lagi, “Dengan apa kalian mengetahui hal itu?” Dia menjawab, “Dengan gerakan jenggotnya.”

Bukhori (738) dan Muslim (396) meriwayatkan dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Dalam setiap sholat beliau membaca. Apa yang Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- perdengarkan kepada kami, maka kami memperdengarkannya kepada kalian. Apa yang dipelankannya, maka kami juga memelankannya kepada kalian.”

Para sahabat -rodhiyallohu ‘anhum- tidak meriwayatkan bacaan jahr pada selain posisi-posisi itu.

7.      Mengenai membaca amin, Abu Dawud (934) meriwayatkan dari Abu Huroiroh -rodhiyalloh ‘anhu-, dia berkata, “Jika Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- membaca,

عَلـَيْهـِمْ غـَيْرِ الـْمَغـْضُوْبِ عَلـَيْهـِمْ وَلاَالضَّآلـِّيْنَ

beliau mengucapkan amin sehingga orang yang berada di shaf pertama mendengarnya.”

Ibnu Majah (853) menambahkan, “Masjid pun bergaung karenanya.”

Bacaan amin juga disunnahkan kepada makmum yang dilakukan setelah imam. Bukhori (749) dan Muslim (410) meriwayatkan dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Jika imam mengucapkan,

عَلـَيْهـِمْ غـَيْرِ الـْمَغـْضُوْبِ عَلـَيْهـِمْ وَلاَالضَّآلـِّيْنَ

maka ucapkanlah amin. Barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, diampunilah dosanya yang telah berlalu.

Dalam riwayat Abu Dawud (936), “Jika imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah juga amin.

8.      Membaca surat lain setelah Al-Fatihah adalah pada dua roka’at pertama. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa hadits.

Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (745) dan Muslim (451) dari Abu Qotadah -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- membaca Al-Fatihah dan surat lainnya pada dua roka’at pertama sholat Zhuhur dan sholat Ashar. Dalam riwayat lain disebutkan, “Begitu juga yang beliau lakukan ketika sholat Shubuh.”

Makmum tidak membaca selain Al-Fatihah dalam sholat jahriyah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (832, 824), Nasa’i (2/141), dan selain keduanya dari Ubadah bin Ash-Shomit -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Kami berada di belakang Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- ketika sholat Shubuh. Beliau membaca surat panjang. Tatkala selesai, beliau bersabda, ‘Barangkali kalian ikut membaca bacaan imam kalian?’” Ubadah melanjutkan, “Kami berkata, ‘Ada apa, demi Allah?’ Beliau menjawab, ‘Jangan melakukannya kecuali untuk Ummul Quran (yaitu Al-Fatihah). Sesungguhnya tidak dianggap sholat bagi orang yang tidak membacanya.’” Dalam riwayat lain, “Janganlah membaca bagian apapun dari Al-Quran jika saya menjahrkannya kecuali Ummul Qur’an (Al-Fatihah).

9.      Mengenai bertakbir ketika hendak ruku’ dan bangun dari ruku’, Bukhori (752) dan Muslim (392) meriwayatkan dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa dia mengerjakan sholat bersama orang-orang. Dia bertakbir setiap kali ruku’ dan bangun dari ruku’. Tatkala selesai, dia berkata, “Saya adalah orang yang paling mirip sholatnya di antara kalian dengan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

10.  Mengenai membaca tashbih dalam ruku’ dan sujud, Muslim (772) dan selainnya meriwayatkan dari Hudzaifah -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Pada suatu malam saya sholat bersama Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-.” Dalam hadits ini lalu disebutkan, “Kemudian beliau ruku’ dan mengucapkan (سُبْحَانَ رَبـِّيَ الـْـعَظِيْمِ), kemudian sujud dan mengucapkanسُبْحَانَ رَبـِّيَ ا ْلأ َعْلـَى) ).”

11.  Mengenai meletakkan kedua tangan di atas kedua paha ketika duduk, Muslim (580) meriwayatkan dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhumaa- tentang cara duduk Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Dia berkata, “Jika duduk dalam sholat, beliau meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya dan menggenggam seluruh jari-jarinya serta memberi isyarat dengan jari manisnya. Kemudian meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya.”

12.  Dasar duduk tawarruk pada saat duduk terakhir adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (794) dari Abu Humaid As-Sa’idy -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Saya adalah orang yang paling hafal di antara kalian tentang sholat Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-.” Lalu disebutkan, “Jika duduk pada dua roka’at, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Jika duduk pada roka’at terakhir, beliau mengedepankan kaki kirinya, menegakkan kaki yang lainnya dan duduk di atas pantatnya.”

Mengedepankan kaki kirinya, artinya di bawah kaki kanannya yang ditegakkan.

Muslim (579) meriwayatkan dari Abdulloh bin Az-Zubair -rodhiyallohu ‘anhumaa-, “Jika Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- duduk dalam sholat, beliau meletakkan kaki kirinya di antara paha dan betisnya serta membentangkan kaki kanannya.”

13.  Mengenai salam kedua, Muslim (582) meriwayatkan dari Sa’ad -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Saya melihat Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengucapkan salam ke arah kanan dan kirinya sehingga saya melihat putih pipinya.”

Abu Dawud (996) dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi-shollallohu ‘alaihi wasallam- mengucapkan salam ke arah kanan dan kirinya sehingga terlihatlah putih pipinya, Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh, Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh.” Tirmidzi mengatakan (295), “Hadits Ibnu Mas’ud ini adalah hadits hasan shohih.


Wallohu A'lam Bishshowaab
Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin

Wassalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Link Yang Bersangkutan: Kitab At-Taqrib


<'@II<     maH-Taj   ^_^ !!             (19 Syawal 1432 H)

2 PENDAPAT:

Bersama Dakwah Islam mengatakan...

salam ukhuwah wahai saudaraku, alhamdulillah mendapatkan ilmu lagi, Syukron jazakallah khoiron katsiron telah berbagi ilmu yang bermanfaat.

An Maharani Bluepen mengatakan...

penulisan "aamiin" yang lebih tepat, kan..
:D

trims udah maen ke blog An jugaa

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates