Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Kamis, 21 Juli 2011

Kitab Sholat - Sunnah-sunnah Sholat

Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh


Bismillaahirrohmaanirrohiim


***

وسننها قبل الدخول فيها شيآن الاذان والاقامة وبعد الدخول فيها شيآن التشهد الأول والقنوت فى الصبح وفى الوتر فى النصف الثانى من شهر رمضان .

Sunnah-sunnah sebelum mengerjakan sholat ada dua, yaitu: adzan dan iqomat. Sunnah-sunnah setelah mulai mengerjakan sholat juga ada dua, yaitu: tasyahhud awal dan membaca qunut pada sholat Shubuh maupun sholat Witir pada pertengahan kedua bulan Romadhon.

***

Penjelasan :


1.      Adzan dan Iqomat adalah untuk sholat-sholat fardhu. Dalil yang menunjukkan disyari’atkannya adzan dan iqomat adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (602) dan Muslim (674) dari Malik bin Al-Huwairits -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

اِذ َا حَضَرَتْ الصَّلاَة ُ فـَـلـْيُؤَذ ِّنْ لـَكـُمْ أ َحَدُكـُمْ وَلـْـيَؤُمَّـكـُمْ أ َكـْبَرُكـُمْ .
Jika waktu sholat datang, hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan adzan. Hendaklah orang yang paling tua di antara kalian menjadi imam kalian.

Abu Dawud (499) meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Abdulloh bin Zaid -rodhiyallohu ‘anhu-, “Jika akan mengerjakan sholat, ucapkanlah Alloohu Akbar, Alloohu Akbar…

Hukum wajib ini berubah menjadi sunnah berdasarkan dalil-dalil lainnya.

Lafazh adzan adalah sebagai berikut:

أ َللهُ أ َكـْبَرُ أ َللهُ أ َكـْبَرُ
أ َللهُ أ َكـْبَرُ أ َللهُ أ َكـْبَرُ
أ َشْهَدُ أ َنْ لاَ اِلـَهَ اِلاَّ اللهُ، أ َشْهَدُ أ َنْ لاَ اِلـَهَ اِلاَّ اللهُ
أ َشْهَدُ أ َنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، أ َشْهَدُ أ َنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلـَى الصَّلاَةِ، حَيَّ عَلـَى الصَّلاَةِ
حَيَّ عَلـَى الـْفـَلاَحِ، حَيَّ عَلـَى الـْفـَلاَحِ
أ َللهُ أ َكـْبَرُ أ َللهُ أ َكـْبَرُ
لاَ اِلـَهَ اِلاَّ اللهُ

Ketika adzan Shubuh ditambahkan:

الصَّلاَة ُ خَيْرٌ مِنَ النـَّوْمِ، الصَّلاَة ُ خَيْرٌ مِنَ النـَّوْمِ

Setelah mengucapkan (حَيَّ عَلـَى الـْفـَلاَحِ) yang kedua.

Adapun lafazh iqomat adalah sebagai berikut:

أ َللهُ أ َكـْبَرُ أ َللهُ أ َكـْبَرُ
أ َشْهَدُ أ َنْ لاَ اِلـَهَ اِلاَّ اللهُ
أ َشْهَدُ أ َنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلـَى الصَّلاَةِ
حَيَّ عَلـَى الـْفـَلاَحِ
قـَدْ قـَامَتِ الصَّلاَةُ، قـَدْ قـَامَتِ الصَّلاَةُ
أ َللهُ أ َكـْبَرُ أ َللهُ أ َكـْبَرُ
لاَ اِلـَهَ اِلاَّ اللهُ
Lafazh ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim dan selain keduanya. Disunnahkan bagi orang yang mendengar adzan untuk mengucapkan kalimat yang diucapkan oleh muadzin. Jika adzan selesai, hendaknya dia bersholawat kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan berdo’a sesuai dengan hadits yang diriwayatkan.

Muslim (384) dan selainnya meriwayatkan dari ‘Abdulloh bin ‘Amru -rodhiyallohu ‘anhumaa- bahwa dia mendengar Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Jika kalian mendengar orang mengumandangkan adzan, ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan, kemudian bersholawatlah kepadaku. Sesungguhnya barangsiapa bersholawat kepadaku dengan satu sholawat, niscaya Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mohonlah untukku wasilah kepada Allah, karena itu adalah tempat di surga yang tidak layak ditempati kecuali oleh salah seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Saya berharap bahwa sayalah orangnya. Barang siapa memintakan wasilah untukku kepada Allah, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.

Bukhori (589) dan selainnya meriwayatkan dari Jabir -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Barangsiapa mengucapkan ketika mendengar adzan:

اللـّٰـهُمَّ رَبَّ هٰذِهِ الدَّعْوَةِ التـَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الـْـقـَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدً الـْوَسِيْلـَة َ وَالـْفـَضِيْلـَة َ وَابْعَثـْهُ مَقـَامًا مَحْمُوْدًا الـَّـذِيْ وَعَدْتَهُ .
‘Ya Allah Sang Pemilik panggilan yang sempurna dan sholat yang ditegakkan! Berilah Muhammad wasilah (derajat paling tinggi di surga) dan kelebihan serta bangkitkanlah dia dalam kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.’
Maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.

(الدَّعْوَةِ التـَّامَّةِ) artinya dakwah tauhid yang tidak akan mengalami perubahan dan pergantian.

(الـْفـَضِيْلـَة) artinya kedudukan lebih dari segenap makhluk.

(مَقـَامًا مَحْمُوْدًا) artinya disanjung orang yang mengerjakannya.

(الـَّـذِيْ وَعَدْتَهُ) artinya, sesuai dengan firman Allah, “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Al-Israa [17]: 79)

Disunnahkan juga kepada muadzin untuk mengucapkan sholawat kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan do’a dengan suara yang lebih halus daripada adzan dan dipisahkan agar tidak disangka bahwa sholawat adalah bagian dari lafazh adzan.

Orang yang mendengar adzan mengucapkan kalimat yang diucapkan muadzin kecuali (حَيَّ عَلـَى الصَّلاَةِ) dan (حَيَّ عَلـَى الـْفـَلاَحِ). Pada dua kalimat ini, dia mengucapkan (لاَ حَوْلَ وَلاَ قـُوَّة َ اِلاَّ بـِاللهِ), sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (588) dan Muslim (385) serta selain keduanya. Demikian juga pada kalimat (الصَّلاَة ُ خَيْرٌ مِنَ النـَّوْمِ), maka dia mengucapkan: (صَدَقـْتَ وَبَرَرْتَ).

Disunnahkan juga ketika mendengar iqomat untuk untuk mengucapkan kalimat yang diucapkan muadzin, kecuali kalimat (قـَدْ قـَامَتِ الصَّلاَةُ), maka hendaknya mengucapkan (أ َقـَامَهَا اللهُ وَأ َدَامَهَا). (HR. Abu Dawud 528)

2.      Tasyahhud awal itu mengikuti hadits-hadits shohih. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (1167) bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- berdiri ketika dua roka’at Zhuhur dan tidak duduk. Tatkala selesai sholat, beliau sujud dua kali dan salam. Sujud sahwi yang dilakukannya adalah tanda kesunnahannya.

Maksud tidak duduk, yaitu di antara dua roka’at pertama dan dua roka’at kedua.

Dalam hadits tentang orang yang buruk sholatnya yang diriwayatkan Abu Dawud (860) disebutkan, “Jika engkau duduk di pertengahan sholat, maka tenanglah. Bentangkanlah paha kirimu, kemudian tasyahhudlah.

3.      Dasar membaca qunut pada sholat Shubuh adalah hadits yang diriwayatkan Hakim dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-, dia mengatakan, “Jika Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengangkat kepalanya dari ruku’ dalam sholat Shubuh pada roka’at kedua, beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a dengan do’a ini (اللـّٰهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ).” (Mughnii Al-Muhtaaj: 1/166)

4.      Mengenai qunut pada sholat Witir pada pertengahan kedua bulan Romadhon, Abu Dawud (1425) meriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengajarkanku kalimat-kalimat yang saya ucapkan ketika sholat Witir, yaitu:

اللـّٰهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافـَيْتَ وَتـَوَلـَّنِيْ فِيْمَنْ تـَوَلـَّيْتَ وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أ َعْطـَيْتَ وَقِنِيْ شـَرَّ مَا قـَضَيْتَ اِنـَّكَ تـَقـْضِيْ وَلاَ يُقـْضَى عَلـَيْكَ وَاِنـَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالـَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تـَبَارَكـْتَ رَبَّنـَا وَتـَعَالـَيْتَ .
Ya Allah, Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi. Sayangilah aku sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku. Jauhkan aku dari kejelekan apa yang Engkau takdirkan. Sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan qodho dan tidak ada orang yangmemberikan hukuman kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau."

Tirmidzi (464) mengatakan bahwa hadits ini hasan. Dia melanjutkan, “Kami tidak mengetahui sedikit pun do’a dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- yang lebih baik dari ini ketika qunut witir.”

Abu Dawud (1428) meriwayatkan bahwa Ubay bin Ka’ab -rodhiyallohu ‘anhu- mengimami orang-orang, yaitu pada bulan Romadhon. Dia membaca qunut pada pertengahan terakhir Romadhon. Perbuatan sahabat adalah hujjah jika tidak diingkari.

Wallohu A'lam Bishshowab
Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin


Wassalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Link Yang Bersangkutan: Kitab At-Taqrib


<'@II<   maH-Taj     ^_^ !!       (20 Sya'ban 1432 H)

0 PENDAPAT:

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates