Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Minggu, 05 Juni 2011

Kitab Sholat - Waktu-waktu Sholat

Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Segala puji hanya milik Allah Subhaanahu Wata'ala. Yang telah memberikan begitu banyak ni'mat kepada kita semua, terutama ni'mat Iman dan ni'mat Islam. Alhamdulillaah.. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan atas junjungan kita semua Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam, kepada keluarganya, kepada semua sahabatnya, dan semoga kepada kita semua yang Insya Allah akan selalu setia kepada Rosululloh hingga akhir hayat, aminn...

Pembahasan tentang FIQIH di bulan Juni ini masuk ke bab tentang KITAB SHOLAT. Setelah beberapa bulan kebelakang kita telah membahas KITAB THAHARAH, semoga postingan-postingan sebelumnya dapat bermanfaat untuk kehidupan kita, dan dapat menambah keberkahan (barokah) dalam setiap langkah hidup kita.. Amiinn

Dan Mari kita mulai saja pembahasan tentang KITAB SHOLAT, dan saat ini kita akan bahas tentang Waktu-waktu Sholat...

***

الصلاة المفروضة خمس :: الظهر : واول وقـتـها زوال الشمس، وآخره إذا صار ظل كل شيء مثله بعد ظل الزوال :: والعصر : وأول وقتها الزيادة على ظل المثل، وآخره فى الاختيار الى ظل المثلين، وفى الجواز الى غروب الشمس :: والمغرب : ووقتها واحد، وهو غروب الشمس وبمقدار ما يؤذن ويتوضأ ويستر العورة ويقيم الصلاة ويصلى خمس ركعات :: والعشاء : وأول وقتها إذا غاب الشفق الاحمر، وآخره فى الاختيار الى ثلث الليل، وفى الجواز الى طلوع الفجر الثان :: والصبح : وأول وقتها طلوع الفجر الثان، وآخره فى الاختيار الى الاسفار، وفى الجواز الى طلوع الشمس.

Sholat yang diwajibkan ada lima, yaitu:
1.      Zhuhur. Awal waktunya adalah ketika matahari tergelincir, sedangkan akhirnya adalah jika bayangan segala sesuatu sama dengan bendanya setelah tergelincir matahari.
2.      Ashar. Awal waktunya adalah ketika bayangan lebih dari bendanya, sedangkan akhirnya –berdasarkan waktu terpilih– adalah sampai bayangan benda dua kali panjangnya. Akan tetapi, boleh mengerjakannya sampai terbenam matahari.
3.      Maghrib. Waktunya hanya satu, yaitu ketika matahari terbenam. Kadarnya kira-kira adalah kadar adzan, wudhu, menutup aurat, iqamat dan sholat lima rekaat.
4.      ‘Isyaa’. Awal waktunya adalah apabila mega merah hilang, sedangkan akhirnya –berdasarkan waktu terpilih– sampai sepertiga pertama malam. Akan tetapi, boleh mengerjakannya sampai terbit fajar kedua.
5.      Shubuh. Awal waktunya adalah ketika terbit fajar kedua, sedangkan akhirnya –sesuai pendapat yang terpilih– adalah sampai hari terang. Akan tetapi, boleh mengerjakannya sampai matahari terbit.

***

Penjelasan :


1.      Dasar disyari’atkannya sholat:
Firman Allah -Subhanahu Wata’ala-,

اِنَّ الصَّلٰوةَ كـَانَتْ عَلـَى ا ْلمُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَّوْقـُوْتـًا {١٠٣}

Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu (kewajiban) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
(An-Nisaa’ [4]: 103)

Hadits Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhu- yang diriwayatkan oleh Bukhari (8), Muslim (16), dan selain keduanya bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

بُنِيَ ا ْلاِسْـلاَمُ عَلـَى خَمْـٍس شـَهَادَةِ ا َنْ لاَ اِلـَهَ اِلاَّ اللهُ وَأ َنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَاِقـَامِ الصَّلاَةِ وَاِيتـَاءِ الزَّكـَاةِ وَا ْلحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ.

Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: syahadat bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, mengerjakan haji, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”

Dalam sebuah hadits yang berbicara tentang Isra’ disebutkan, “Allah mewajibkan kepada umatku lima puluh kali sholat… Saya kembali menghadap-Nya, maka Allah berfirman, ‘Sholat itu lima kali, tetapi pahalanya lima puluh kali sholat. Keputusan ini tidak akan Aku ganti lagi. (HR. Bukhari 342, Muslim 163, dan selain keduanya).

2.      Hadits yang mengungkapkan kelima waktu sholat adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (614) dan selainnya dari Abu Musa Al-Asy’ari -rodhiyallohu ‘anhu- dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bahwa seseorang mendatanginya untuk bertanya tentang waktu sholat, tetapi beliau tidak menjawab apa pun. Abu Musa Al-Asy’ari melanjutkan ceritanya bahwa Rosululloh melaksanakan sholat shubuh ketika fajar telah menampakkan sinar sehingga sebagian orang hampir melihat sebagian lainnya. Kemudian beliau memerintahkannya (untuk adzan), lalu melaksanakan sholat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Seseorang berkata, “ini adalah pertengahan siang.” Padahal, beliau lebih mengetahui dari mereka. Kemudian beliau memerintahkannya (untuk adzan), lalu melaksanakan sholat ‘Ashar ketika matahari meninggi. Kemudian beliau memerintahkannya (untuk adzan), lalu melaksanakan sholat Maghrib ketika matahari terbenam. Kemudian beliau memerintahkannya (untuk adzan), lalu melaksanakan sholat ‘Isyaa’ ketika semburat merah telah hilang.

Kemudian beliau mengakhirkan sholat Shubuh pada esok harinya sehingga ketika beliau selesai, seseorang berkata, “Matahari telah terbit, atau hampir terbit.” Kemudian beliau mengakhirkan sholat Zhuhur sampai dekat dengan waktu sholat Ashar yang kemarin. Kemudian beliau mengakhirkan sholat Ashar sehingga ketika beliau selesai, seseorang berkata, “Matahari telah merah.” Kemudian beliau mengakhirkan sholat Maghrib sampai waktu hilangnya semburat merah. Kemudian beliau mengakhirkan sholat ‘Isyaa’ sampai awal sepertiga malam. Kemudian ketika berada di pagi hari, beliau memanggil orang yang bertanya dan bersabda, “Waktunya di antara dua waktu ini.”

Matahari tergelincir maksudnya adalah condong dari tengah langit.

Ada beberapa hadits yang menjelaskan hal-hal global yang ada di dalam hadits ini atau menambahinya dalam pembahasan selanjutnya.

3.      Mengenai bolehnya mengerjakan sholat ‘Ashar samapai terbenam matahari, Bukhari (554) dan Muslim (608) meriwayatkan dari Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ اَدْرَكَ مِنَ الصـُّبْحِ رَكـْعَة ً قـَبْلَ ا َنْ تـَطـْلـُعَ الشـَّمْسُ فـَقـَدْ ا َدْرَكَ الصـُّبْحَ، وَمَنْ ا َدْرَكَ رَكـْعَة ً مِنَ ا ْلعَصْرِ قـَبْلَ ا َنْ تـَغـْرُبَ الشـَّمْسُ فـَقـَدْ ا َدْرَكَ ا ْلعَصْرَ.

Barangsiapa mendapatkan satu reka’at Shubuh sebelum matahari terbit, maka dia telah mendapatkan Shubuh. Barangsiapa mendapatkan satu reka’at Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan Ashar.

4.      Kadar waktu sholat Maghrib kira-kira adalah kadar adzan, wudhu, menutup aurat, iqamat dan sholat lima reka’at. Ini adalah pendapat baru Imam Syafi’i -rohimaahulloh-. Dalilnya adalah Hadits Jibril -‘Alaihissalaam- yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (393), Tirmidzi (149) dan selain keduanya dari Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhumaa-. Di dalam hadits itu disebutkan bahwa Jibril -'alaihissalaam- mengerjakan sholat Maghrib bersama Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- selama dua hari ketika orang yang berpuasa sedang berbuka. Artinya, sholat Maghrib  tersebut dikerjakan dalam satu waktu, yaitu setelah terbenamnya matahari.

Sementara itu pendapat lama menyatakan bahwa waktu Maghrib adalah sampai dengan hilangnya mega merah. Para ulama madzhab menguatkannya karena dalil-dalilnya yang kuat. Misalnya, hadits Muslim sebelumnya yang menceritakan kejadian di Madinah. Hadits ini lebih kuat dari hadits Jibril -'alaihissalaam- yang terjadi di Mekkah karena patokannya adalah kejadian yang terjadi terakhir kali. Di dalam hadits ini disebutkan, “Kemudian beliau mengakhirkan Maghrib sampai hilangnya mega merah.” Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- juga bersabda, “Waktu sholat Maghrib adalah selama belum hilang mega.” (HR. Muslim 612).

5.      Boleh mengerjakan sholat ‘Isyaa’ sampai terbit fajar kedua. Dasarnya adalah hadits riwayat Muslim (681) dan selainnya dari Abu Qotaadah -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

اَمَا اِنـَّهُ لـَيْسَ فِى النـَّوْمِ تـَفـْرِيْــٌط، اِنـَّمَا التـَّفـْرِيْطُ عَلـَى مَنْ لـَمْ يُصَـلِّ الصَّلاَةَ حَتـَّّى يَجِيْءَ وَقـْتُ الصَّلاَةِ ا ْلأ ُخـْرَى.

Ketahuilah bahwa tidak ada kelalaian dalam tidur. Kelalaian itu adalah bagi orang yang tidak mengerjakan sholat sampai datang waktu sholat lainnya.

Hadits ini menunjukan bahwa waktu sholat tidak berakhir kecuali dengan masuknya waktu sholat lainnya. Waktu Shubuh di luar dari keumuman ini sehingga tetap dengan waktunya.

Fajar kedua adalah saat sinarnya menyebar, membentang di seantero langit yang diiringi oleh cahaya. Berbeda dengan fajar pertama yang terbit memanjang, di atasnya ada sinar panjang seperti ekor serigala dan diikuti oleh gelap.

Wallohu A'lam Bishshowab>
Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin

Wassalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh


Link Yang bersangkutan : Kitab At-Taqrib


<'@II<    maH-Taj    ^_^ !!                 (03 Rajab 1432 H)

0 PENDAPAT:

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates