Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh
Bismillaahirrohmaanirrohiim
***
وشرائط الصلاة قبل الدخول فيها خمسة أشياء : طهارة الأعضاء من الحدث والنجس، وستر العورة بلباس طاهر، والوقوف على مكان طاهر، والعلم بدخول الوقـت، واستقبال القبلة. ويجوز ترك القبلة في حالتين : في شدة الخوف، وفي النافلة في السفر على الراحلة.
Syarat sebelum mengerjakan sholat ada lima, yaitu:
1. Sucinya anggota tubuh dari hadats dan najis.
2. Menutup aurat dengan pakaian yang suci.
3. Berdiri di tempat yang suci.
4. Mengetahui masuknya waktu sholat.
5. Menghadap qiblat.
Seseorang bolah mengerjakan sholat dengan tidak menghadap qiblat dalam dua keadaan, yaitu:
1. Ketika rasa takut luar biasa.
2. Ketika mengerjakan sholat sunnah dalam perjalanan di atas kendaraan.
***
Penjelasan :
1. Sebelum sholat, anggota tubuh harus suci dari hadats; baik itu hadats kecil maupun hadats besar. Hal ini berdasarkan firman Allah -Subhaanahu Wata’ala-,
يٰــٓـأ َيُّـهَا الـَّـذِيْنَ اٰمَنـُوْ ٓا اِذ َا قـُمْتـُـمْ اِلـَى الصَّلٰوةِ فـَاغـْسِلـُوْا وُجُوْهَـكـُمْ وَا َيْدِيَكـُمْ اِلـَى الـْـمَرَافِــِق وَامْسَحُوْا بـِرُءُوْسِكـُمْ وَا َرْجُلـَكـُمْ اِلـَى الـْـكـَعْبَيْنِ ۗ وَاِنْ كـُنـْتـُمْ جُنـُبًا فـَاطـَّـهَّرُوْا ۗ
Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah.
(Al-Maidah [5]: 6)
2. Anggota tubuh juga harus suci dari najis. Hal itu ditunjukkan oleh perintah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- untuk membasuh najis, seperti sabdanya kepada Fathimah binti Abi Hubaisy -rodhiyallohu ‘anhaa-, “Jika haidh menghampirimu, maka tinggalkanlah sholat. Jika hitungan harinya sudah berlalu, maka basuhlah darahnya dan kerjakanlah sholat.”
Demikian juga hadits Ali -rodhiyallohu ‘anhu- tentang membasuh madzi.
Masalah ini diqiyaskan dengan kesucian pakaian yang diperintahkan oleh Allah -Subhaanahu Wata’ala- melalui firman-Nya, “Dan pakaianmu sucikanlah.” (Al-Muddatstsir [74]: 5)
3. Dasar syarat menutup aurat dengan pakaian yang suci adalah firman Allah -Subhaanahu wata’ala-,
خـُذ ُوْا زِيْـنـَـتـَكـُمْ عِنـْدَ كـُلِّ مَسْجـِـدٍ
Pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid. (Al-A’raaf [7]: 31)
Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhumaa- berkata, “Maksud pakaian di sini adalah pakaian ketika mengerjakan sholat.” (Mughnii Al-Muhtaaj: 1/184)
Tirmidzi (377) meriwayatkan dan menyatakan hasan sebuah hadits dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa-, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,
لا َ تـُقـْبَلُ صَلاَة ُ الـْـحَائِــِض اِلا َّ بـِخِمَارٍ.
Tidak diterima sholat perempuan yang telah mengalami haidh kecuali dengan khimar
Perempuan yang telah mengalami haidh adalah perempuan yang baligh. Khimar adalah kain yang dapat menutupi kepala perempuan. Jika menutup kepala diwajibkan, maka menutup yang lainnya adalah lebih utama. Hal ini ditunjukan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (365) dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa-, dia berkata, “Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengerjakan sholat fajar, kemudian kaum mu’minat ikut tasyahud bersamanya. Mereka tertutup dengan pakaian mereka. Kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing. Tidak ada seorang pun yang mengenali mereka.”
Dalil menunjukan syarat perempuan harus suci adalah firman Allah -Subhaanahu Wata’ala-, “Dan pakaianmu sucikanlah.” (Al-Muddatstsir [74]: 5)
Abu Dawud (365) meriwayatkan dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Khoulah binti Yasar mendatangi Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan berkata, “Wahai Rosululloh, saya hanya memiliki satu pakaian, padahal saya dalam keadaan haidh. Apa yang harus saya lakukan?” Beliau menjawab, “Jika engkau telah suci, maka cucilah pakaian itu dan pakailah untuk sholat.” Khoulah bertanya lagi, “Jika darahnya tidak keluar?” Beliau menjawab, “Cukup bagimu membasuh darahnya dan bekasnya tidak akan mengganggumu.”
4. Tempat sholat harus suci. Hal ini ditunjukkan oleh perintah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- untuk menuangkan air ke tempat kencingnya orang Badui di Masjid. Hadits ini juga diqiyashkan dengan kesucian pakaian.
5. Orang yang akan mngerjakan sholat adalah harus mengetahui masuknya waktu sholat. Dasarnya adalah firman Allah -Subhaanhu Wata’ala-,
اِنَّ الصَّلٰوةَ كـَانـَتْ عَلـَى الـْـمُؤْمِنِيْنَ كِتٰـبًا مَّوْقـُوْتـًا
Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
(An-Nisaa’ [4]: 103)
Fardhu yang ditetapkan dengan waktu tertentu sehingga harus diketahui masuk waktunya.
6. Sholat harus menghadap qiblat. Allah -Subhaanahu Wata’ala- berfirman,
قـَدْ نَرٰى تـَقـَلـُّبَ وَجْهـِكَ فِى السَّمَآءِ ۚ فـَلـَنـُوَلـِّيَنـَّكَ قِبْلـَة ً تـَرْضٰهَا ۖ فـَوَلِّ وَجْهَكَ شـَــْطرَالـْمَسْجـِـدِ الـْحَرَامِ ۗ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka Kami benar-benar akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Harom.
(Al-Baqoroh [2]: 144)
Maksud mukamu menengadah ke langit adalah wajahmu berulang-ulang melihat dan memandang kea rah langit.
Maksud Kami akan memalingkanmu adalah Kami akan mengarahkanmu.
Kiblat adalah arah yang kamu tuju ketika sholat.
Kamu sukai, maksdunya kamu senangi dan cintai.
Palingkanlah mukamu, maksudnya hadapkanlah ke arah masjid.
Harom, artinya tidak boleh menyakiti dan menodainya.
Bukhori (5897) dan muslim (397) meriwayatkan hadits tentang orang yang buruk sholatnya bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda kepadanya, “Jika engkau ingin mengerjakan sholat, maka sempurnakanlah wudhu. Kemudian, menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah.”
Masjid Al-Harom dalam ayat ini dan kiblat dalam hadits maksudnya adalah Ka’bah.
Bukhori (390) dan Muslim (525) meriwayatkan dari Al-Barro’ bin ‘Azib -rodhiyallohu ‘anhumaa-, dia berkata, “Dahulu Rosululloh mengerjakan sholat ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan atau tujuh belas bulan. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- ingin menghadap ke arah Ka’bah, maka Allah -Subhaanahu Wata’ala- menurunkan ayat,
قـَدْ نَرٰى تـَقـَلـُّبَ وَجْهـِكَ فِى السَّمَآءِ ۚ
‘Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit.’
Kemudian Beliau menghadap kea rah Ka’bah.”
7. Seseorang boleh mengerjakan sholat dengan tidak menghadap qiblat ketika rasa takut luar biasa, yaitu rasa takut karena perang dan lainnya selama sebabnya mubah. Dasarnya adalah firman Allah -Subhaanahu Wata’ala-,
فـَـاِنْ خِفـْتـُمْ فـَرِجَالاً اَوْ رُكـْبَانـًا ۚ
Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka kerjakanlah sholat sambil berjalan atau berkendaraan.
(Al-Baqoroh [2]: 239)
Artinya, jika kamu tidak mungkin mengerjakan sholat dengan sempurna, maka kerjakanlah sholat sebisamu; entah itu dengan berjalan kaki atau berkendaraan.
Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhumaa- berkata, “Entah menghadap kiblat atau tidak.”
Nafi’ berkata, “Saya berpendapat bahwa Ibnu Umar tidak akan mengucapkan hal itu kecuali berasal dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-.” (Bukhori: 4261)
8. Seseorang juga boleh mengerjakan sholat dengan tidak menghadap qiblat ketika mengerjakan sholat sunnah dalam perjalanan di atas kendaraan. Bukhori (391) meriwayatkan dari Jabir -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengerjakan sholat di atas kendaraannya sesuai dengan arah menghadapnya kendaraan itu –dalam riwayat lainnya disebutkan ke arah timur–. Jika ingin menunaikan sholat fardhu, beliau turun dan menghadap qiblat.” Dalam riwayat lain (1045) dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhumaa-, “Beliau mengerjakan sholat dalam perjalanan.”
Wallohu A'lam Bishshowab
Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin
Wassalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh
Link Bersangkutan: KITAB AT-TAQRIB
<'@II< maH-Taj ^_^ !! (15 Rajab 1432 H)

Kitab Sholat - Syarat Sebelum Sholat




2 pENdapAt:
paten kang,punteun mun tiasa,coba nyien artikel takriran fathul mu'in,supaya lbh bnyk ilmu buat kami.
Insya Allah kang. Mudah2an Allah masihan Jalan kanggo abdi. Jika si Akang palay ngabantosan, mangga atuh. diantosan. haturnuhun kang. Mugi2 barokah
Poskan Komentar
Silahkan Beri Pendapat, jangan sungkan, aku akan senang menerima saran, keritik, atau apapun itu... Silahkaaan...