Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Senin, 13 Juni 2011

Kitab Sholat - Sholat-sholat Sunnah

Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh


Bismillaahirrohmaanirrohiim



***

والصلوات المسنونات خمس : العيدان، والكسوفان، والاستسقاء. والسنن التابعة للفرائض سبعة عشر ركعة : ركعتا الفجر، وأربع قبل الظهر وركعتان بعده، وأربع قبل العصر، وركعتان بعد المغرب، وثلاث بعد العشاء يوتر بواحدة منهن. وثلاث نوافل مؤكدات : صلاة الليل، وصلاة الضحى، وصلاة التراويح.

Sholat-sholat yang disunnahkan ada lima, yaitu:
1.      Sholat Idul Fitri
2.      Sholat Idul Adha.
3.      Sholat gerhana matahari.
4.      Sholat gerhana bulan.
5.      Sholat istisqa’ (meminta hujan).

Sholat-sholat sunnah yang mengiringi sholat fardhu ada tujuh belas roka’at, yaitu:
1.      Sholat dua reka’at sebelum sholat shubuh.
2.      Sholat empat reka’at sebelum sholat Zhuhur dan dua reka’at sesudahnya.
3.      Sholat empat reka’at sebelum sholat Ashar.
4.      Sholat dua reka’at setelah sholat Maghrib.
5.      Sholat tiga reka’at setelah sholat ‘Isyaa’, termasuk satu reka’at witir.

Sholat-sholat sunnah muakkadah ada tiga, yaitu:
1.      Sholat Malam.
2.      Sholat Dhuha.
3.      Sholat Tarowih.

***

Penjelasan :


1.      Maksud “sholat-sholat yang disunnahkan ada lima” –yaitu sholat ‘Idul Fitri, sholat ‘Idul Adhha, sholat gerhana matahari, sholat gerhana bulan, dan sholat Istisqa’– adalah sholat sunnah muakkadah yang lebih ditekankan daripada sholat-sholat sunnah lainnya karena dikerjakan secara independen dan berjama’ah.

2.      Mengenai sholat sunnah dua reka’at sebelum sholat shubuh, Bukhari (1116) dan Muslim (724) meriwayatkan dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa-, dia berkata, “Tidak ada sholat nafilah yang paling dijaga oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- melebihi dua reka’at fajar (sebelum sholat shubuh).”

Sholat nafilah adalah sholat tambahan dari sholat fardhu.

3.      Mengenai sholat empat reka’at sebelum sholat Zhuhur dan dua roka’at sesudahnya, Bukhori (1127) meriwayatkan dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- tidak meninggalkan empat roka’at sebelum Zhuhur dan dua roka’at sebelum pagi, yaitu sholat fajar. Muslim (730) juga meriwayatkan dari Aisyah yang berkata, “Beliau mengerjakan sholat di rumahku empat roka’at sebelum zhuhur, kemudian berangkat dan sholat bersama orang banyak. Setelah itu, beliau masuk dan mengerjakan sholat dua roka’at.

Beliau menambah dua roka’at setelahnya sebagaimana diriwayatkan oleh imam hadits yang lima dan dinyatakan shohih oleh Tirmidzi (427, 428) dari Ummu Habibah -rodhiyallohu ‘anhaa-, dia berkata: Saya mendengar Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ صَلـَّى أ َرْبَعَ رَكـَعَاتٍ قـَبْلَ الظـُهْرِ وَأ َرْبَعًا بَعْدَهَا، حَرَّمَهُ اللهُ عَلـَى النـَّارِ.

Barangsiapa mengerjakan sholat empat roka’at sebelum Zhuhur dan empat roka’at setelahnya, niscaya Allah mengharamkan dirinya dari neraka.

Sholat Jum’at itu seperti Zhuhur, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, karena merupakan pengganti. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (881) dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

اِذ َا صَلـَّى ا َحَدُكـُمْ ا ْلجُمُعَة َ فـَلـْيُصَلِّ بَعْدَهَا ا َرْبَعًا

Jika salah seorang diantara kalian mengerjakan sholat Jum’at, maka sholatlah empat roka’at setelahnya.

Tirmidzi (523) meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud -rodhiyallohu ‘anhu- mengerjakan sholat empat roka’at sebelum sholat Jum’at dan empat roka’at setelahnya.

4.      Mengenai sholat empat reka’at sebelum sholat ‘Ashar,  Tirmidzi (430) meriwayatkan dan menyatakan hasan sebuah hadits dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

رَحِمَ اللهُ امْرَأ ً صَلـَّى قـَبْلَ ا ْلعَصْرِ أ َرْبَعًا.

Mudah-mudahan Allah merahmati seorang laki-laki yang mengerjakan sholat empat roka’at sebelum ‘Ashar.

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengerjakannya dua roka’at dua roka’at. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (429) dan selainnya dari Ali -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengerjakan sholat empat roka’at sebelum Ashar dengan dipisah salam di antara semuanya.

5.      Mengenai sholat dua reka’at setelah sholat Maghrib, Bukhori (1126) dan Muslim (729) meriwayatkan dari Ibnu Umar -­rodhiyallohu ‘anhumaa-, dia berkata, “Saya menghafal sepuluh roka’at sholat yang dilakukan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, yaitu: dua roka’at sebelum Zhuhur dan dua roka’at setelahnya, dua roka’at sebelum Maghrib di rumahnya, dua roka’at setelah ‘Isyaa’ di rumahnya, serta dua roka’at sebelum Shubuh. Itu adalah jam dimana Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- tidak mau ditemui.”

Sepuluh roka’at yang disebutkan dalam hadits ini lebih ditekankan daripada selainnya. Disunnahkannya roka’at selainnya ditunjukan oleh dalil-dalil lain.

Disunnahkan mengerjakan sholat dua reka’at ringan sebelum sholat Maghrib berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (599) dan Muslim (837) dari Anas -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Kami dulu tinggal di Madinah. Jika mu’adzin mengumandangkan adzan untuk sholat Maghrib, orang-orang bersegera menuju tiang untuk mengerjakan sholat dua roka’at dua roka’at. Orang asing yang masuk ke dalam Masjid sampai-sampai akan menyangka bahwa sholat telah dikerjakan karena banyaknya orang yang mengerjakan sholat sunnah tersebut.”

Maksud tiang dalam atsar di atas adalah penyanggah untuk meninggikan loteng.

Maksud bersegera menuju tiang adalah setiap mereka menuju tiang untuk berdiri di belakangnya.

Maksud dua roka’at dua roka’at adalah setiap orang mengerjakan sholat dua roka’at  dan tidak menambahnya.

Maksud sholat dikerjakan secara ringan adalah bacaan dalam sholat tersebut tidak dipanjangkan.

Selain dua roka’at sebelum Maghrib, disunnahkan juga mengerjakan sholat dua roka’at ringan sebelum Isyaa’. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (601) dan Muslim (838) dari Abdulloh bin Mufadhdhol -rodhiyallohu ‘anhu-, bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Di antara setiap dua adzan itu terdapat sholat. Di antara setiap dua adzan itu terdapat sholat.” Pada kesempatan ketiga, beliau bersabda, “Yaitu bagi siapa saja yang mau.

Maksud dua adzan adalah adzan dan iqomat.

6.      Dasar disunnahkannya sholat witir adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ­-rodhiyallohu ‘anhuma- sebelumnya dan juga diriwayatkan oleh Muslim (752). Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Witir adalah satu roka’at di akhir malam.”

Ini adalah bilangan witir paling sedikit. Bilangan paling tengah adalah tiga roka’at, sedangkan paling banyak adalah sebelas roka’at.

Bukhori (1071) dan Muslim (736) serta selain keduanya meriwayatkan dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa-, dia berkata, “Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengerjakan sholat di antara waktu selesai sholat ‘Isyaa’ sampai fajar sebanyak sebelas roka’at. Beliau salam pada setiap dua roka’at dan melakukan witir dengan satu roka’at. Jika mu’adzin sholat fajar diam, waktu fajar telah terlihat serta mu’adzin mendatanginya, beliau bangkit dan mengerjakan sholat dua roka’at ringan. Setelah itu, beliau berbaring di atas sisi kanan badannya sampai mu’adzin mendatanginya untuk iqomah.” Maksud dua roka’at ringan adalah dua roka’at sholat fajar.

Abu Dawud (1422) dan selainnya meriwayatkan dari Abu Ayyub -rodhiyallohu ‘anhu-, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

الـْـوِتـْرُ حَقٌّ عَلـَى كـُلِّ مُسْلِمٍ، فـَمَنْ أ َحَبَّ أ َنْ يُوْتِرَ بـِخـَمْسٍ فَلـْيَفـْعَلْ، وَمَنْ أ َحَبَّ أ َنْ يُوْتِرَ بـِثـَلاَثٍ فـَلـْيَفـْعَلْ، وَمَنْ أ َحَبَّ أ َنْ يُوْتِرَ بـِوَاحِدَةٍ فـَلـْيَفـْعَلْ.

Witir adalah hak atas setiap muslim. Barangsiapa ingin mengerjakan witir sebanyak lima roka’at, silahkan melakukannya. Barangsiapa ingin mengerjakan witir sebanyak tiga roka’at, silahkan melakukannya. Barangsiapa ingin mengerjakan witir sebanyak satu roka’at, silahkan melakukannya.

Maksud hak dalam hadits diatas adalah perkara yang disyari’atkan dan diperintahkan.

7.      Sholat malam (qiyaamul lail), sholat Dhuha, dan sholat tarowih ditekankan (muakkadah) setelah sholat-sholat sunnah yang diperintahkan untuk dilaksanakan secara berjama’ah  dan sholat-sholat sunnah rowatib yang dilakukan setelah sholat-sholat fardhu. Yang pertama adalah karena keutamaan berjama’ah, sedangkan yang kedua adalah karena ikatannya dengan sholat fardhu.

8.      Mengenai sholat malam, Muslim (1163) dan selainnya meriwayatkan dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- ditanya, “Sholat apakah yang paling utama setelah sholat fardhu?” Beliau menjawab, “Sholat yang dikerjakan pada pertengahan malam.

Maksud pertengahan malam adalah pada pertengahan waktu malam dan saat-saat konsentrasi untuk ibadah.

Sholat ini dinamakan qiyaamul lail dan tahajjud jika dikerjakan setelah tidur. Allah -Subhaanahu Wata’ala- berfirman, “Dan pada sebagian malam hari, kerjakanlah sholat tahajjud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (Al-Isroo’ [17]: 79)

Artinya: tinggalkanlah tidur dan bangunlah, kemudian sholatlah dan bacalah Al-Quran.

Maksud sebagai tambahan bagimu adalah sebagai tambahan (khususnya) untuk sholat-sholat fardhu yang diwajibkan kepadamu.

9.      Mengenai sholat Dhuha, Bukhori (1880) dan Muslim (721) meriwayatkan dari Abu Huroiroh -rohiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Teman dekatku (yaitu Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-) mewasiatkan kepadaku tiga perkara, yaitu: berpuasa tiga hari disetiap bulan, dua reka’at Dhuha dan sholat witir sebelum tidur.”

Jumlah roka’at sholat Dhuha paling sedikit adalah dua roka’at –sebagaimana disebutkan dalam hadits tadi–, sedangkan jumlah paling banyak adalah delapan roka’at sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (350) dan Muslim (336) dari Ummu Hani’ -rodhiyallohu ‘anhaa- bahwa pada hari penaklukkan Makkah, dia mendatangi Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Ketika itu, beliau berada di puncak Makkah. Kemudian beliau mandi dengan ditutup oleh Fathimah. Setelah itu, beliau mengambil pakaiannya dan memakainya. Kemudian beliau sholat Dhuha sebanyak delapan roka’at.

Sholat Dhuha ini lebih baik dipisah pada setiap dua roka’at sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (1290) dari Ummu Hani’ bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-  mengerjakan sholat Dhuha delapan roka’at pada hari penaklukkan Makkah dan mengucapkan salam setiap dua roka’at.

Waktu sholat Dhuha dimulai ketika matahari naik sampai tergelincir. Akan tetapi, lebih baik mengerjakannya ketika berlalu seperempat siang. Muslim (848) dan selainnya meriwayatkan dari Zaid bin Arqom -rodhiyallohu ‘anhu-, dai berkata, “Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-  berangkat menemui penduduk Quba’ ketika mereka sedang mengerjakan sholat dhuha. Beliau lalu bersabda, ‘Sholat orang-orang yang taubat adalah ketika anak unta merasa kepanasan pada waktu dhuha’.”

10.  Sholat Tarowih dinamakan juga Qiyam Romadhon. Jumlah reka’atnya adalah dua puluh pada setiap malam Romadhon. Setiap dua reka’at diakhiri dengan satu salam. Waktu sholat Tarowih adalah diantara waktu ‘Isyaa’ dan sholat Fajar. Sholat Tarowih dikerjakan sebelum sholat Witir.

Bukhori (37), Muslim (759) dan selain keduanya meriwayatkan dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ قـَامَ رَمَضَانَ إ ِيْمَانـًا وَاحْتِسَابًا غـُفِرَ لـَهُ مَا تـَقـَـدَّمَ مِنْ ذ َنـْـبـِـهِ.

Barangsiapa mengerjakan qiyam Romadhon dengan keimanan dan keikhlasan, maka dosanya yang telah berlalu diampuni.

Maksud dengan keimanan adalah dengan mempercayai bahwa puasa ini adalah hak.

Maksud dengan keikhlasan adalah ikhlas karena Allah Ta’ala.

Bukhori (882) dan Muslim (761) meriwayatkan dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa- bahwa pada suatu malam Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengerjakan sholat di masjid. Orang-orang kemudian ikut-ikutan mengerjakan sholat. Besoknya, beliau kembali sholat dan orang-orang menjadi semakin banyak. Kemudian mereka kembali berkumpul pada hari ketiga –atau keempat–. Akan tetapi, beliau tidak kunjung keluar menemui mereka. Ketika pagi hari, beliau bersabda, “Saya telah melihat apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali saya khawatir jika sholat ini menjadi diwajibkan kepada kalian.” Peristiwa itu terjadi pada bulan Romadhon.

Bukhori (1906) meriwayatkan dari Abdurrohman bin Abdul Qory, dia berkata, “Saya berangkat ke masjid bersama Umar bin Khoththob pada bulan Romadhon. Ternyata, orang-orang berkelompok-kelompok. Ada seseorang yang mengejakan sholat sendirian, sedangkan orang lain mengerjakan sholat dengan diikuti oleh sekelompok orang. Maka Umar berkata, ‘Menurutku, jika mereka disatukan dengan satu orang qori’, tentu itu lebih baik.’ Kemudian dia bertekad untuk mengumpulkan mereka dengan dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab. Ketika pada malam lainnya, saya berangkat bersamanya. Ternyata, orang-orang mengerjakan sholat dengan mengikuti qori’ mereka. Umar lalu berkata, ‘Sebaik-baik bid’ah (hal yang baru) adalah ini. Orang-orang yang mengerjakannya pada akhir malam lebih baik daripada orang-orang yang mengerjakannya pada awal malam.’”

Sekumpulan orang disini maksudnya adalah kurang dari sepuluh orang.

Maksud ungkapan “sebaik-baik bid’ah adalah ini” adalah alangkah baik perbuatan ini. Bid’ah adalah sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya. Kadang-kadang bid’ah ini baik dan disyari’atkan jika sesuai syari’at dan ada kebiakannya. Kadang-kadang tercela dan ditolak jika bertentangan dengan syari’at dan mengandung keburukan. Akan tetapi jika tidak bertentangan dengan syari’at dan tidak ada dasarnya, maka hukumnya mubah (boleh).

Baihaqi dan selainnya meriwayatkan dengan isnad shohih (2/996) bahwa mereka mengerjakan sholat Tarowih pada bulan Romadhon pada masa kekhilafahan Umar bin Khoththob -rodhiyallohu ‘anhu- sebanyak dua puluh roka’at. Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththo’ (1/115) bahwa orang-orang mengerjakan sholat Tarowih pada bulan Romadhon pada masa kekhilafahan Umar sebanyak dua puluh tiga reka’at. Baihaqi menyatukan kedua riwayat ini bahwa tiga roka’at yang terakhir adalah witir.



Wallohu A'lam Bishshowab
Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin

Wassalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Link Bersangkutan: KITAB AT-TAQRIB

<'@II<  maH-Taj   ^_^ !!                       (11 Rajab 1432 H)

0 PENDAPAT:

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates