Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Kamis, 23 Juni 2011

Kitab Sholat - Rukun Sholat

Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh


Bismillaahirrohmaanirrohiim


***

وأركان الصلاة ثمانية عشر ركنا : النية، والقيام مع القدرة، وتكبيرة الاحرام، وقراءة الفاتحة وبسم الله الرحمن الرحيم آية منها، والركوع، والطمأنينة فيه، والرفع، والاعتدال، والطمأنينة فيه، والسجود، والطمأنينة فيه، والجلوس بين السجدتين، والطمأنينة فيه، والجلوس الاخير، والتشهد فيه، والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فيه، والتسليمة الاولى، ونية الخروج من الصلاة، وترتيب الاركان على ما ذكرناه.

Rukun sholat ada delapan belas, yaitu:
1.           Niat.
2.           Berdiri jika mampu.
3.           Takbirotul ihrom.
4.           Membaca surat Al-Fatihah diawali dengan membaca bismillaahirrohmaanirrohiim.
5.           Ruku’.
6.           Thuma’ninah dalam ruku’.
7.           I’tidal.
8.           Thuma’ninah dalam i'tidal.
9.           Sujud.
10.       Thuma’ninah dalam sujud.
11.       Duduk di antara dua sujud.
12.       Thuma’ninah ketika duduk di antara dua sujud.
13.       Duduk terakhir.
14.       Tasyahud dalam duduk terakhir.
15.       Membaca sholawat dan salam kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.
16.       Salam pertama.
17.       Berniat selesai dari sholat.
18.       Mengerjakan rukun secara tertib sesuai tertib sesuai dengan yang kami sebutkan tadi.

***

Penjelasan :

1.      Dasar wajibnya niat adalah firman Allah -Subhaanahu Wata’ala-,

وَمَآ ا ُمِرُوْآ اِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْـلِصِيْنَ لـَهُ الدِّيْنَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya.
(Al-Bayyinah [98]: 5)

Demikian juga hadits, “Sesungguhnya amalan itu sesuai dengan niatnya.

2.      Bukhori (1066) meriwayatkan dari Imron bin Husain -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Saya terkena ambiyen. Kemudian saya bertanya kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan beliau menjawab, ‘Sholatlah dengan berdiri. Jika engkau tidak mampu, maka berbaring miringlah (ditopang oleh sisi badan).’”

Nasa’i menambahkan, “Jika engkau tidak mampu, maka menelentanglah. Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.” (Kifaayah Al-Akhyaar: 1/135)

3.      Dalil rukun-rukun yang telah disebutkan tadi –yaitu niat, berdiri jika mampu, takbirotul ihrom, membaca surat Al-Fatihah diawali dengan membaca bismillaahirrohmaanirrohiim, ruku’, thuma’ninah dalam ruku’, I’tidal, thuma’ninah dalam I’tidal, sujud, thuma’ninah dalam sujud, duduk diantara dua sujud, dan thuma’ninah ketika duduk diantara dua sujud– ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (724) dan Muslim (397) dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- memasuki masjid. Kemudian masuklah seorang laki-laki dan mengerjakan sholat. Setelah dia datang dan mengucapkan salam kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-,  beliau menjawab salamnya dan berkata, “Kembalilah dan kerjakanlah sholat karena engkau belum sholat.” Kemudian orang itu mengerjakan sholat. Setelah itu, dia datang lagi dan mengucapkan salam. Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- berkata, “Kembalilah dan kerjakanlah sholat karena engkau belum sholat.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Kemudian orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran! Saya tidak mengetahui yang lainnya. Ajarilah aku!” Beliau bersabda, “Jika engkau hendak mengerjakan, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah bacaan Al-Quran yang mudah bagimu. Kemudian ruku’lah sampai engkau thuma’ninah dalam ruku’. Kemudian naiklah sampai engkau berdiri lurus. Kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud. Kemudian bangkitlah sampai thuma’ninah dalam duduk. Kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud. Kemudian lakukanlah itu dalam semua sholatmu.

Para ulama menamakan hadits ini “Hadits tentang orang yang buruk sholatnya.”

Maksud “engkau belum sholat” adalah sholat yang diperintahkan.

Maksud kalimat, “Saya tidak mengetahui yang lainnya”, adalah “Saya tidak mengetahui selain tata cara yang telah saya lakukan.”

“Bacalah bacaan Al-Quran yang mudah bagimu.”

Ibnu Hibban (484) meriwayatkan, “Kemudian bacalah Ummul Quran.” Yaitu, surat Al-Fatihah. Hal itu ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (723) dan Muslim (394),

لاَصَلاَة َ لِمَنْ لـَمْ يَقـْـرَأ ْ بـِفـَاتِحَةِ الـْـكِتـَابِ .

Tidak dianggap sholat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.

Adapun yang menunjukkan bahwa basmalah adalah salah satu ayat dari surat Al-Fatihah dan setiap surat lainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (400) dari Anas -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Suatu hari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersama kami. Ketika itu, beliau tidur ringan. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dengan tersenyum, maka kami bertanya, ‘Apa yang membuatmu tertawa, wahai Rosululloh?’ Beliau menjawab, ‘Baru saja diturunkan kepadaku sebuah surat.’ Kemudian beliau membaca,

بـِـسْمِ اللهِ الرَّحْمٰن ِ الرَّحِيْمِ اِنـَّآ ا َعْطـَـيْنٰـكَ الـْـكـَوْثـَرَ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya kami telah memberimu ni’mat yang banyak.

Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- menganggapnya salah satu ayat dari surat tersebut.

“Kemudian naiklah sampai engkau berdiri lurus”, artinya thuma’ninah dalam berdiri, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh oleh Ibnu Hibban.

“Dalam semua sholatmu”, artinya dalam setiap roka’at sholatmu.

4.      Dalil rukun duduk terakhir adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (794) dari Abu Humaid As-Sa’idy ­-rodhiyallohu ‘anhu- tentang gambaran sholat Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-, “Jika duduk pada roka’at terakhir, beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki lainnya serta duduk di atas pantatnya.”

Sebab, posisi ini adalah tempat mengucapkan sesuatu yang wajib, sebagaimana akan dijelaskan, maka hukumnya pun wajib, seperti berdiri untuk membaca Al-Fatihah.

5.      Dasar wajibnya tasyahhud dalam duduk terakhir adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (5806), Muslim (402), dan selain keduanya dari Ibnu Mas’ud -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata: Jika mengerjakan sholat bersama Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, maka kami mengucapkan –dalam riwayat Baihaqi (2/138) dan Daruquthni (1/350): “Sebelum diwajibkan tasyahhud kepada kami, kami mengucapkan”–,  “Keselamatan untuk Allah sebelum para hamba-Nya. Keselamatan untuk Jibril. Keselamatan untuk Mikail. Keselamatan untuk Fulan.” Tatkala Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- selesai, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami seraya berkata, “Sesungguhnya Allah adalah As-Salaam. Jika salah seorang di antara kalian duduk dalam sholatnya, maka ucapkanlah, (التـَّحِيَّاتُ)…”

“Allah adalah As-Salaam”, maksudnya salah satu nama Allah -Subhaanahu Wata’ala-. Menurut sebuah pendapat, maknanya adalah keselamatan-Nya dari aib dan kefanaan yang menimpa makhluk.

Tentang redaksi tasyahhud ada berbagai riwayat dan semuanya benar. Redaksi yang sempurna dan utama menurut Imam Syafi’i -rohimaahulloh- adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (403) dan selainnya dari Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengajarkan tasyahhud, sebagaimana beliau mengajarkan kami surat Al-Quran. Beliau berkata,

التـَّحِيَّاتُ الـْمُبَارَكـَاتُ الصَّـلـَوَاتُ الطـَّـيِّـبَاتُ  ِللهِ، السَّـلاَمُ عَلـَيْكَ أ َيُّهَا النـَّبـِيُّ وَرَحْمَة ُ اللهِ وَبَرَكـَاتـُهُ، السَّـلاَمُ عَلـَيْنـَا وَعَلـَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أ َشْهَدُ أ َنْ لاَ اِلـَهَ اِلاَّ اللهُ وَا َشْهَدُ ا َنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ .

6.      Dasar wajibnya membaca sholawat dan salam kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- adalah firman Allah -Subhaanahu Wata’ala-,

اِنَّ اللهَ وَمَلٰـٓـئِكـَتـَهُ يُصَلـُّوْنَ عَلـَى النـَّبـِيِّ ۗ يٰــٓـا َيُّهَا الـَّـذِيْنَ اٰمَنـُوْا صَلـُّوْا عَلـَيْهِ وَسَلـِّمُوْا تـَسْلِيْمًا﴿۵٦﴾

Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.
(Al-Ahzaab [33]: 56)

Para ulama bersepakat bahwa sholawat tidak wajib di luar sholat dan wajib di dalam sholat. Ibnu Hibban (515) dan Hakim (1/268) meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud -rodhiyallohu ‘anhu- yang bertanya tentang cara bersholawat kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, “Bagaimana kami bersholawat kepadamu, yang jika kami bersholawat kepadamu di dalam sholat kami, Allah pun akan bersholawat kepadamu?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah…

Hal ini menunjukkan bahwa sholawat itu dilakukan di dalam sholat.

Tempat yang tepat adalah di akhir sholat. Wajib mengucapkannya pada saat duduk terakhir setelah tasyahhud.

Adapun lafadz sempurnanya adalah:

اللـّٰهُمَّ صَلِّ عَلـَى مُحَمَّدٍ وَعَلـَى آلِ مُحَمَّدٍ كـَمَا صَلـَّيْتَ عَلـَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلـَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلـَى مُحَمَّدٍ وَعَلـَى آلِ مُحَمَّدٍ كـَمَا بَارَكـْتَ عَلـَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلـَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ فِي الـْعَالـَمِيْنَ اِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجـِيْدٌ .

Lafadz ini berdasarkan hadits-hadits yang shohih yang diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim dan selain keduanya. Pada sebagian jalan periwayatannya ada tambahan atau pengurangan.

7.      Mengenai rukun salam pertama, Muslim (498) meriwayatkan dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa-, Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- membuka sholat dengan takbir… dan menutupnya dengan salam.”

8.      Pendapat yang paling benar tentang berniat selesai dari sholat menyatakan bahwa hal ini bukan rukun, tetapi disunnahkan. Niat dimasukkan ke dalam rukun sebagai upaya untuk menghargai pendapat yang mengatakan bahwa ia adalah rukun.

9.      Dasar wajibnya mengerjakan rukun mengerjakan rukun secara tertib adalah hadits tentang orang yang buruk sholatnya. Di dalam hadits ini rukun-rukun dihubungkan dengan tertib. Demikian juga amalan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- yang diriwayatkan melalui hadits-hadits yang shohih.


Link yang bersangkutan: KITAB AT-TAQRIB

Wallohu A'lam Bishshowab
Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin


Wassalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh


<'@II<     maH-Taj       ^_^ !!                     (21 Rajab 1432 H)

1 PENDAPAT:

Nizam Ijam mengatakan...

entry yang baik :)

”Kahwin Dengan Mayat”

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates