Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Rabu, 04 Mei 2011

Kitab Thaharah - Macam-macam Najis

Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim

***
 
وكل مائع خرج من السبيلين نجس٬ إلا المني٠ وغسل جميع الأبوال والأرواث واجب٬ إلا بول الصبي الذي لم يأكل الطعام٬ فإنه يطهر برش الماء عليه٠ ولا يعفى عن شيء من النجاسات إلا اليسير من الدم والقيح٬ وما لا نفس له سائلة : إذا وقع في الإناء ومات فيه فإنه لا ينجسه٠ والحيوان كله طاهر٬ إلاالكلب والخنزير وما تولد منهما أومن أحدهما٠ والميتة كلها نجسة٬ إلا السمك والجراد والآدمي٠ ويغسل الإناء من ولوغ الكلب والخنزير سبع مرات إحداهن بالتراب٬ ويغسل من سائر النجاسات مرة تأتي عليه٬ والثلاثة أفضل٠ وإذا تخللت الخمرة بنفسها طهرت٬ وإن خللت بطرح شيء فيها لم تطهر٠

Setiap benda maupun cairan yang keluar dari qubul dan dubur adalah najis, kecuali mani. Mencuci semua kencing dan kotoran adalah wajib, kecuali kencing bayi laki-laki yang belum memakan makanan. Membersihkannya cukup dengan memercikkan air ke bagian yang kena.

Tidak ada maaf untuk benda najis apapun kecuali setetes darah dan nanah serta bangkai binatang kecil yang tidak memiliki darah mengalir. Apabila binatang tersebut jatuh ke dalam bejana, maka ia tidak membuatnya najis.

Semua binatang adalah suci kecuali anjing dan babi serta apa yang berasal dari keduanya atau salah satunya. Semua bangkai adalah najis kecuali ikan, belalang, dan manusia.

Bejana harus dicuci jika dijilat anjing dan babi sebanyak tujuh kali, salah satunya adalah dengan tanah. Bejana cukup dicuci sekali saja jika terkena seluruh najis yang lainnya, namun jika dicuci tiga kali itu lebih baik.

Jika arak berubah menjadi cuka dengan sendirinya, maka ia suci. Jika berubah dengan memasukkan sesuatu, maka ia tidak suci.

***


Penjelasan :

1.      Najisnya benda atau cairan yang keluar dari qubul dan dubur -kecuali mani- adalah berdasarkan dalil-dalil berikut. Bukhari (214) meriwayatkan dari Anas -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Jika Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- membuang hajatnya, maka saya membawakannya air untuk membasuh.”

Maksud membuang hajat adalah membuang kencing maupun berak.

Bukhari (176) dan Muslim (303) meriwayatkan dari Ali -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Saya adalah laki-laki yang sering mengeluarkan madzi. Saya malu untuk bertanya kepada Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-, maka saya memerintahkan Miqdad Al-Aswad untuk menanyakannya. Beliau menjawab, ‘(jika keluar madzi), maka harus berwudhu.” Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Dia harus membasuh kemaluannya dan berwudhu.

Madzi adalah air lembut yang keluar dari kemaluan. Biasanya ketika syahwat bergejolak.

Bukhari (155) meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- pergi ke tempat membuang hajat dan memerintahkanku untuk membawakannya tiga buah batu. Saya mendapatkan dua buah batu dan berusaha mencari yang ketiganya, tetapi tidak kunjung mendapatkannya. Kemudian saya mengambil kotoran dan membawanya. Beliau mengambil dua buah batu dan membuang kotoran seraya berkata, ‘Ini adalah najis’.”

Maksud kotoran disini adalah kotoran hewan yang dimakan dagingnya.

Hadits-hadits ini menunjukan najisnya jenis-jenis yang disebutkan tadi karena Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- membasuhnya, atau mengungkapkan kenajisannya. Kemudian jenis-jenis yang belum disebutkan yang keluar dari qubul dan dubur  diqiyaskan dengan jenis-jenis yang disebutkan tadi.

2.      Air mani manusia dan semua jenis hewan –kecuali anjing dan babi– tidak najis. Mengenai mani manusia, Muslim (288) dan selainnya meriwayatkan sebuah hadits dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa-, dia berkata, “Saya mengorek-ngorek mani dari pakaian Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Kemudian beliau berangkat dan shalat.” Jika saja mani itu najis, tentu tidak akan cukup dengan mengoreknya.

Mengenai mani selain manusia, maninya sama dengan mani manusia karena asal binatang adalah suci. Sementara itu, mani anjing dan babi najis karena kedua binatang ini pada dasarnya memang najis.

3.      Dasar wajibnya mencuci semua kencing dan kotoran adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan selain keduanya bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- memerintahkan untuk menuangkan seember air ke tempat kencing seorang Arab Badui di mesjid.

4.      Membersihkan kencing bayi laki-laki yang belum memakan makanan cukup dengan memercikkan air ke bagian yang kena. Bukhari (221), Muslim (227), dan selain keduanya meriwayatkan dari Ummu Qais bin Muhshin -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa dia membawa anak laki-lakinya yang belum memakan makanan kepada Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Beliau mendudukkan bayi itu di kamarnya. Bayi itu lalu mengencingi pakaian beliau. Kemudian beliau meminta air, setelah itu memercikkannya dan tidak mencucinya.

Memercikkannya artinya adalah menciprati seluruh tempat yang kena itu dengan air tanpa mengalirkannya.

5.      Apabila bangkai binatang kecil yang tidak memiliki darah yang mengalir jatuh ke dalam bejana, maka ia tidak membuatnya najis. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari (5445) dan selainnya dari Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

اِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي اِنَاءِ اَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَاِنَّ فِي اَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً وَفِي ا ْلآخَرِ دَاءً٠

Jika seekor lalat masuk ke dalam bejana salah seorang diantara kalian, maka benamkanlah seluruhnya, kemudian buanglah. Sesungguhnya disalah satu sayapnya terdapat obat, sedangkan di sayap lainnya terdapat penyakit.

Segi pendalilan hadits ini adalah, jika lalat itu menyebabkan air menjadi najis, tentu tidak akan diperintahkan untuk membenamkannya. Semua bangkai yang tidak ada darah mengalirnya diqiyaskan dengan lalat.

6.      Semua binatang adalah suci, kecuali anjing dan babi serta apa yang berasal dari keduanya  atau salah satunya. Artinya, semua binatang adalah suci badannya ketika hidup.

7.      Anjing dan babi bukan binatang yang suci karena keduanya najis. Allah -Subhanahu Wata’ala- berfirman,

اَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَاِنَّهُ رِجْسٌ

Atau daging babi karena itu adalah najis. (Al-An’am [6]: 145)

Dalam sebuah hadits juga terdapat perintah untuk menyucikan bejana jika dijilat anjing, seperti yang akan disebutkan.

8.      Seluruh bangkai adalah najis selain bangkai ikan, belalang, dan manusia. Bangkai ikan dan belalang itu suci berdasarkan sabda Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-, “Dihalalkan bagi kita dua bangkai.” Masalah ini akan disebutkan lebih lanjut dalam pembahasan tentang buruan dan sembelihan.

9.      Bejana harus dicuci jika dijilat anjing dan babi sebanyak tujuh kali, salah satunya adalah dengan tanah. Bukhari (170) dan Muslim (279) meriwayatkan dari Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

اِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِي اِنَاءِ اَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا٠

Jika anjing minum di bejana salah seorang diantara kalian, hendaklah dia mencucinya sebanyak tujuh kali.

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

طَهُورُ اِنَاءِ اَحَدِكُمْ اِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ اَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ ا ُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ٠

Sucinya bejana salah seorang diantara kalian jika dijilat anjing adalah dia harus mencucinya sebanyak tujuh kali. Pertamanya adalah dengan tanah.

Daruquthni (1/65) meriwayatkan, “Salah satunya adalah dengan kerikil kecil.” Maksudnya adalah tanah.

Babi diqiyaskan dengan anjing karena lebih berbahaya dan mulutnya lebih utama untuk dicuci dari selainnya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits mengenai kenajisannya.

10.  Bejana cukup dicuci sekali saja jika terkena seluruh najis selain najis dijilat anjing dan babi. Namun demikian, jika dicuci tiga kali adalah lebih baik. Dasarnya adalah hadits Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhumaa-, “Dahulu shalat itu lima puluh kali, mandi dari junub tujuh kali dan membasuh kencing tujuh kali. Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- terus meminta keringanan sehingga shalat dijadikan lima kali, mandi dari junub sekali, dan membasuh pakaian yang kena kencing sekali.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (247). Dia tidak menilainya dha’if. Najis selain karena jilatan babi dan anjing itu diqiyaskan dengan kencing.

11.  Jika arak berubah menjadi cuka dengan sendirinya, maka ia suci karena faktor penyebab kenajisannya adalah memabukkan. Hal itu telah hilang dengan berubahnya menjadi cuka. Akan tetapi jika berubah dengan memasukkan sesuatu, maka ia tidak suci. Sebab, sesuatu yang dimasukkan ke dalamnya menjadi najis dengan masuknya itu dan tetap menjadi najis. Jika arak itu berubah menjadi cuka, maka sesuatu yang di dalamnya itulah yang membuatnya bernajis.



Wallohu A'lam bishshowab
Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin



Wassalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh


<'@II<   maH-Taj   ^_^ !!          (1 Jumadil Tsaani 1432 H)

1 PENDAPAT:

ratih fatma mengatakan...

saya hanya blogwalking>>>
kalau anda berminat kunjungi blog saya yaa>>>

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates