Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Rabu, 06 April 2011

Kitab Thaharah - Perkara yang Mewajibkan Mandi

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim

***

والذي يوجب الغسل ستة أشياء : ثلاثة تشترك فيها الرجال والنساء٬ وهي : التقاء الختانين٬ وإنزال المني٬ والموت٠ وثلاثة يختص بها النساء٬ وهي : الحيض٬ والنفاس٬ والولادة٠

Perkara yang mewajibkan mandi ada enam. Tiga di antaranya mencakup laki-laki dan perempuan, sedangkan tiga lainnya khusus untuk wanita.

Untuk laki-laki dan perempuan:
1.      Bertemunya dua khitan.
2.      Keluarnya mani.
3.      Meninggal.

Khusus untuk wanita:
1.      Haidh.
2.      Nifas.
3.      Melahirkan.

***


Penjelasan :

1.      Tempat khitan bagi laki-laki adalah kulit yang menutupi kepala kemaluan sebelum dikhitan, sedangkan bagi perempuan adalah kulit yang berada di bagian atas qubul dekat tempat keluarnya kencing. Maksud bertemunya dua khitan adalah kedua kelamin saling berhadapan, yaitu dengan masuknya kelamin laki-laki ke dalam kelamin perempuan. Tepatnya, kalimat ini merupakan bentuk majas dari jima’ (hubungan badan).

Bukhari (287) dan Muslim (248) meriwayatkan dari Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ٠

Jika seseorang berada di atas keempat anggota badan istrinya kemudian membuatnya payah, maka wajib baginya mandi.

Dalam riwayat Muslim,

وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ.

Walaupun tidak keluar mani.

Maksud keempat anggota badan adalah kedua paha dan kedua betis wanita.

Maksud membuatnya payah adalah bentuk kinayah dari usaha memasukkan penis ke dalam kemaluan istrinya.

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukan wajibnya mandi karena melakukan jima’ walaupun tidak sampai keluar mani, sebagaimana diungkapkan secara jelas oleh riwayat Muslim.

2.      Mengenai wajibnya mandi karena keluarnya mani, Bukhari (278) dan Muslim (313) meriwayatkan dari Ummu Salamah -rodhiyallohu ‘anhaa-, bahwa Ummu Sulaim datang kepada Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan berkata, “Wahai Rosululloh! Sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Haruskah perempuan mandi jika bermimpi?” Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- menjawab, “Ya, jika dia melihat air.” Yaitu, mani atau cairan yang keluar dari perempuan ketika berjima’.

Maksud bermimpi dalam hadits di atas adalah bermimpi bahwa dia disetubuhi.

Abu Dawud (236) dan selainnya meriwayatkan dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa-, dia berkata, Rosululloh -Shollalllohu ‘alaihi wasallam- ditanya seorang laki-laki yang mendapati basah pada dirinya namun dia tidak ingat mimpi apapun. Rosululloh -Shollalllohu ‘alaihi wasallam- menjawab, “Dia harus mandi.” Rosululloh -Shollalllohu ‘alaihi wasallam- juga ditanya tentang seorang laki-laki yang bermimpi namun tidak mendapati ada yang basah pada dirinya. Beliau menjawab, “Tidak ada kewajiban mandi baginya.” Ummu Sulaim berkata, “Perempuan itu melihat ada yang basah. Apakah wajib baginya untuk mandi?” Beliau menjawab, “Ya, perempuan itu adalah partnernya laki-laki.” Artinya, sama dengan mereka dalam akhlak dan tabiat. Seakan-akan mereka itu diambil dari laki-laki.

3.      Mengenai wajibnya mandi karena meninggal, Bukhari (1195) dan Muslim (939) meriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyyah -rodhiyallohu ‘anhaa-, dia berkata, Rosululloh -Shollalllohu ‘alaihi wasallam- menemui kami ketika anak perempuannya meninggal. Beliau lalu bersabda, “Mandikanlah dia. Mandikanlah dia. Mandikanlah dia.

Bukhari (1208) dan Muslim (1206) meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhumaa- bahwa seorang laki-laki dilempar untanya dan diinjak lehernya. Ketika itu kami bersama Rosululloh -Shollalllohu ‘alaihi wasallam- yang sedang ihram. Nabi -Shollalllohu ‘alaihi wasallam- lalu bersabda, “Mandikanlah dia dengan air dan sidr serta kafanilah dia dengan dua buah kain.”

4.      Mengenai wajibnya mandi karena haidh, Allah -Subahanahu Wata’ala- berfirman,

فَٱعْتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِى ٱلْمَحِيضِ ۦ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۦ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ ٱللهُ  ۚ  إِنَّ ٱللهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ ﴿٢٢٢﴾

Oleh sebab itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita diwaktu haidh dan jangan mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Al-Baqarah [2]: 222)

Mereka telah suci, artinya mereka telah mandi

Bukhari (314) meriwayatkan dari A’isyah -rodhiyallohu ‘anhaa- bahwa Rosululloh -Shollalllohu ‘alaihi wasallam- berkata kepada Fatimah binti Abu Jubaisy -rodhiyallohu ‘anhaa-, “Jika haidh datang, maka tinggalkanlah shalat. Jika telah berlalu, maka mandilah dan kerjakanlah shalat.

5.      Nifas diqiyaskan dengan haidh karena darah nifas adalah darah haidh yang berkumpul.

Ketika melahirkan, wanita wajib mandi karena anak yang keluar berasal dari mani. Biasanya, darah keluar bersamanya.

Wallohu A'lam Bishshowab

Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin

Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


<'@II<  maH-Taj  ^_^ !!    ( 2 Jumadil Awal 1432 H)

0 PENDAPAT:

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates