Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Jumat, 01 April 2011

Kitab Thaharah - Perkara yang membatalkan wudhu

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim

***

والذي ينقض الوضوء ستة أشياء : ما خرج من السبيلين٬ والنوم على غير هيئة المتمكن٬ وزوال العقل بسكر أومرض٬ ولمس الرجل المرأة الأجنبية من غير حائل٬ ومس فرج الآدمي بباطن الكف٬ ومس حلقة دبره على الجديد٠

Ada enam perkara yang membatalkan wudhu, yaitu:
1.      Keluar sesuatu dari qubul (saluran untuk buang air kecil) atau dubur (saluran untuk buang air besar).
2.      Tidur berat dengan tidak meletakkan pantat di atas tanah.
3.      Hilang kesadaran karena mabuk atau sakit.
4.      Bersentuhan kulit tanpa ada penghalang antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.
5.      Menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan.
6.      Menyentuh lingkaran dubur manusia berdasarkan pendapat baru.

***


Penjelasan :

1.      Keluar sesuatu dari qubul (saluran untuk buang air kecil) atau dubur (saluran untuk buang air besar) membatalkan wudhu berdasarkan dalil-dalil berikut.

Allah -subhaanahu wata’ala- berfirman,

أَوْجَآءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِّنَ ٱلْغَآئِطِ

Atau salah seorang dari kalian kembali dari tempat buang air (kakus). (Al-Maidah [5]: 6). Maksudnya, kembali dari tempat membuang hajat sekaligus telah membuangnya.

Bukhari (135) dan Muslim (225) meriwayatkan dari Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian apabila dia berhadats sampai berwudhu.

Salah seorang penduduk Hadhramaut bertanya, “Apakah hadats itu, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Kentut, yang ringan maupun yang bersuara keras.”

Dari sebab yang disebutkan ini, maka diqiyaskan semua yang keluar dari qubul dan dubur walaupun yang keluar itu suci.

2.      Tidur berat dengan tidak meletakkan pantat di atas tanah membatalkan wudhu berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud (203) dan selainnya dari Ali -rodhiyallohu ‘anhu-, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

وِكَاءُ السَّهِ الْعَيْنَانِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ٠

Kedua mata adalah pengawas dubur. Barang siapa yang tertidur, hendaklah dia berwudhu.

Artinya, ketika bangun seseorang akan mengetahui apa yang keluar dari dalam dirinya karena dia merasakannya. Jika dia tidur, maka dikhawatirkan sesuatu telah keluar.

Tidur dengan meletakkan pantat di tanah tidak akan terjatuh jika seseorang tidak bersandar pada apa pun. Wudhunya tidak batal karena dia merasakan apa yang keluar. Hilangnya kesadaran diqiyaskan dengan tidur karena maknanya lebih mendalam.

3.   Bersentuhan kulit tanpa ada penghalang antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya membatalkan wudhu berdasarkan firman Allah -Subhanahu Wata’ala- tentang ayat wudhu,

أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ

Atau kalian menyentuh perempuan. (Al-Maidah [5]: 6)

4.      Menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan membatalkan wudhu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam hadits yang lima dari Bisrah binti Shafwan -rodhiyallohu ‘anha- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلاَ يُصَلِّي حَتَّى يَتَوَضَّأَ٠

Barang siapa menyentuh kemaluannya, maka janganlah mendirikan shalat sampai berwudhu.

Tirmidzi menilai shahih hadits ini. Dalam riwayat Nasa’i (1/100),

وَيُتَوَضَّأُ مِنْ مَسِّ الذَّكَرِ٠

Berwudhu jika menyentuh kemaluan.

Ini mencakup diri sendiri dan orang lain. Ibnu Majah (481) meriwayatkan dari Ummu Habibah -rodhiyallohu ‘anha-,

مَنْ مَسَّ فَرْجَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ٠

Barangsiapa menyentuh kemaluannya, hendaklah dia berwudhu.

Ini mencakup laki-laki dan perempuan, sebagaimana mencakup qubul dan dubur.

5.      Batalnya wudhu orang yang menyentuh lingkaran dubur manusia merupakan pendapat baru. Maksudnya adalah pendapat Imam Syafi’i -rohimahulloh- di Mesir, baik dalam bentuk karangan maupun fatwa. Pendapat ini diamalkan terus kecuali masalah-masalah yang ditarjih oleh para imam madzhab terdahulu dan diungkapkan nashnya.


Wallohu A'lam Bishshowab

Alhamdulillaahirobbil-'alamiin

Wassalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


<'@II<  maH-Taj  ^_^ !!     (27 Robi'ul Akhir 1432 H)

0 PENDAPAT:

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates