Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Rabu, 13 April 2011

Kitab Thaharah - Mandi yang Disunnahkan

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim

***

والاغتسالات المسنونة سبعة عشر غسلا : غسل الجمعة٬ والعيدين٬ والاستسقاء٬ والخسوف والكسوف٬ والغسل من غسل الميت٬ والكافر إذا أسلم٬ والمجنون والمغمى عليه إذا أفاقا٬ والغسل عند الإحرام٬ ولدخول مكة٬ وللوقوف بعرفة٬ وللمبيت بمزدلفة٬ ولرمي الجمار الثلاث٬ وللطواف٬ وللسعي٬ ولدخول مدينة رسول الله صلى الله عليه وسلم٠

Mandi yang disunnahkan ada tujuh belas, yaitu:
1.      Mandi ketika akan mengerjakan shalat jum’at.
2.      Mandi ketika akan mengerjakan shalat ‘Idul Fitri.
3.      Mandi ketika akan mengerjakan shalat ‘Idul Adhha.
4.      Mandi ketika akan mengerjakan shalat Istisqa’ (meminta hujan).
5.      Mandi ketika akan mengerjakan shalat khusuf (gerhana bulan) dan shalat kusuf (gerhana matahari).
6.      Mandi setelah memandikan jenazah.
7.      Mandi bagi orang kafir setelah masuk islam.
8.      Mandi bagi orang yang sembuh dari gila.
9.      Mandi bagi orang yang sadar dari pingsan.
10.  Mandi ketika akan mengerjakan ihram.
11.  Mandi ketika akan memasuki Mekkah.
12.  Mandi ketika akan wukuf di ‘Arafah.
13.  Mandi ketika akan mabit (bermalam) di Muzdalifah.
14.  Mandi ketika akan melempar tiga jumrah.
15.  Mandi ketika akan mengerjakan thawaf.
16.  Mandi ketika akan mengerjakan sa’i.
17.  Mandi ketika akan memasuki Madinah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

***

Penjelasan :

1.   Mengenai mandi ketika akan mengerjakan shalat Jum’at; Bukhari (837), Muslim (844), dan selain keduanya dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhumaa-, bahwa Rosululloh ­-shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ٠

Jika salah seorang di antara kalian pergi untuk mengerjakan shalat Jum’at, maka hendaknya dia mandi.

Perubahan hukumnya dari wajib menjadi sunnah adalah berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi (497),

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ٠

Barang siapa berwudhu pada hari jum’at, maka dia telah mengamalkan sunnah dan itulah sebaik-baik sunnah. Barangsiapa mandi, maka mandi itu lebih baik.

2.   Mengenai mandi ketika akan mengerjakan shalat ‘Id, Imam malik dalam Al-Muwaththa’ (1/177) meriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar -rodhiyallohu ‘anhumaa- mandi ketika ‘Idul Fitri sebelum berangkat ke tempat shalat.

‘Idul Adha diqiyashkan dengan ‘Idul Fitri.

3.   Saya tidak mendapatkan dalil naqli tentang disunnahkan mandi ketika akan mengerjakan shalat istisqa’, khusuf, maupun kusuf.

Mungkin, para ulama menganggapnya sunnah dengan cara mengqiyashkannya dengan hari Jum’at dan dua hari raya karena maknanya sama, yaitu dari sisi berjama’ah dan orang-orang berkumpul untuk melaksanakannya.

4.   Mengenai mandi setelah memandikan jenazah, Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- meriwayatkan dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- , beliau bersabda,

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ٠

Barang siapa memandikan mayat, hendaklah dia mandi. Barangsiapa memikulnya, hendaklah dia berwudhu.

Hadits ini diriwayatkan oleh imam hadits yang lima dan dinilai hasan oleh Tirmidzi (993). Perubahan hukumnya dari wajib menjadi sunnah adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Hakim (1/387),

لَيْسَ عَلَيْكُمْ فِي غُسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ إِذَا غَسَّلْتُمُوْهُ٠

Kalian tidak harus mandi karena memandikan mayat kalian, yaitu jika kalian memandikannya.

5.   Mengenai mandi bagi orang kafir setelah masuk Islam, Abu Dawud (355) dan Tirmidzi (605) meriwayatkan dari Qais bin ‘Ashim -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Saya mendatangi Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- karena ingin masuk Islam. Beliau lalu memerintahku untuk mandi dengan air dan sidr, yaitu daun yang ditumbuk dari pohon tertentu.”

Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadits ini, “Hadits ini diamalkan menurut para ulama. Mereka menyatakan sunnah untuk mandi  dan mencuci pakaiannya jika seorang laki-laki masuk Islam.”

Hukumnya mandi ini tidak wajib karena Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- tidak memerintahkan setiap orang yang masuk Islam untuk mandi.

6.   Dalil disunnahkannya mandi bagi orang yang sadar dari pingsan adalah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari (655) dan Muslim (418) dari Aisyah -rodhiyallohu ‘anhaa-, dia berkata: Penyakit Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- parah. Beliau bertanya, “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab, “Belum. Mereka menunggumu, wahai Rosululloh!” Beliau berkata, “Ambilkan untukku air sebaskom.”  Aisyah melanjutkan ceritanya, maka kami pun melakukannya. Kemudian beliau mandi. Tatkala bangkit dengan susah payah, beliau pingsan. Setelah itu sadar kembali. Beliau bertanya, “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab, “Belum. Mereka menunggumu, wahai Rosululloh!” Beliau berkata, “Ambilkan  untukku air sebaskom.” Aisyah melanjutkan ceritanya, maka kami pun melakukannya. Kemudian beliau mandi. Tatkala bangkit dengan susah payah, beliau pingsan. Setelah itu sadar kembali.

Gila diqiyaskan dengan pingsan karena maknanya sama, bahkan gila lebih tinggi tingkatannya.

7.   Mengenai mandi ketika akan mengerjakan ihram, Tirmidzi (830) meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- melepas pakaiannya untuk ihram dan mandi.

8.   Mengenai mandi ketika akan memasuki Mekkah, Bukhari (1478) dan Muslim (1259) meriwayatkan dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhumaa- bahwa jika berangkat ke Mekkah, dia tidak akan bermalam kecuali di Dzu Thuwa sampai pagi hari dan mandi. Kemudian masuk ke Mekkah ketika siang hari. Ibnu Umar menyebutkan bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- melakukan hal itu.

9.   Mengenai mandi ketika akan wukuf di Arafah, Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ (1/322) dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhumaa- bahwa dia mandi karena ihram sebelum melakukan ihram karena memasuki Mekkah dan wukuf pada sore hari di Arafah.

10.  Pendapat yang paling benar adalah tidak disunnahkan mandi ketika mabit di Muzdalifah. (Nihaayah)

11.  Pendapat yang bisa dijadikan sandaran adalah mandi untuk tawaf itu tidak disunnahkan. (Al-Iqnaa’ )

Wallohu A'lam Bishshowab

Alhamdulillaahirobbil-'alamiin

Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


<'@II<   maH-Taj   ^_^ !!   (09 Jumadil Awal 1432 H)

0 PENDAPAT:

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates