Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Jumat, 18 Maret 2011

Kitab Thaharah - Rukun-rukun Wudhu

Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim
 



***

وفروض الوضوء ستة أشياء : النية عندغسل الوجه٬ وغسل الوجه٬ وغسل اليدين إلى المرفقين٬ ومسح بعض الرأس٬ وغسل الرجلين إلى الكعبين٬ والترتيب على ما ذكرناه٠

Rukun/fardhu wudhu ada enam, yaitu:
1.      Niat ketika membasuh muka.
2.      Membasuh muka.
3.      Membasuh kedua tangan sampai sebatas siku.
4.      Mengusap sebagian kepala.
5.      Membasuh kedua kaki sampai sebatas mata kaki.
6.      Tertib (berurutan) sesuai dengan yang telah kami sebutkan.

***

Penjelasan:


Dasar disyari’atkannya wudhu dan penjelasan tentang rukun-rukunnya adalah firman Allah -Subhanahu Wata’ala­-,

Hai orang-orang yang beriman! Apabila kalian hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku. Usaplah kepala kalian dan (basuhlah) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki. (Q.S. Al-Maidah [5]: 6)

Siku adalah bagian yang terdapat di antara lengan dan otot. Mata kaki adalah dua tulang yang menonjol di kedua sisi, yaitu di antara pergelangan betis dan kaki. Dua kata (إلى) terakhir dalam ayat di atas berarti (مع), yaitu ikut/ masuk ke bagian yang dibasuh. Oleh karena itu, dua siku dan dua mata kaki masuk ke dalam bagian yang wajib dibasuh. Hal itu ditunjukan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (246) dari Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa dia berwudhu. Kemudian dia membasuh mukanya dan menyempurnakannya. Kemudian membasuh tangan kanannya sampai ke otot, lalu tangan kirinya sampai ke otot. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian membasuh kaki kanannya sampai ke betis, lalu kaki kirinya sampai ke betis. Kemudian dia berkata, “Beginilah saya melihat Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- berwudhu.”

Sampai ke otot dan sampai ke betis artinya, keduanya masuk ke dalam bagian yang dibasuh.

Kepalamu artinya adalah bagiannya. Hal ini ditunjukan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya dari Al-Mughirah -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- berwudhu, kemudian mengusap bagian depan kepalanya dan di atas surban.

Bagian depan kepalanya adalah bagian dari kepala. Cukup dengan mengusapnya adalah dalil bahwa yang diwajibkan adalah mengusap bagiannya. Yang demikian itu bisa dengan mengusap bagian mana saja.

Dalil yang menunjukan diwajibkannya niat di awalnya (begitu juga di setiap tempat yang diperintahkan berniat) adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukkhari (1) dan Muslim (1907) dari Umar bin Khaththab -rodhiyallohu ‘anhu-, bahwa dia mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Amalan-amalan itu sesuai dengan niatnya.” Artinya, amalan itu tidak akan dianggap secara syar’i kecuali jika Anda meniatkannya.

Dalil yang menunjukan diharuskannya tertib adalah perbuatan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- berdasarkan hadits-hadits yang shahih. Diantaranya adalah hadits Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- sebelumnya.

Di dalam Al-Majmu’ disebutkan, “Para sahabat berhujjah dengan hadits-hadits shahih yang bersumber dari sejumlah besar sahabat tentang tata cara wudhu Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Semuanya menggambarkan bahwa wudhu Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- itu tertib. Padahal, jumlah mereka banyak, tempat mereka menyaksikan beliau melakukannya banyak, dan perbedaan tentang bilangannya apakah sekali, dua kali, atau tiga kali dan selainnya juga banyak. Akan tetapi, tidak ada yang menyatakan -walaupun terdapat perbedaan yang bersifat variatif- tata cara yang tidak tertib. Perbuatan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- adalah penjelasan tentang wudhu yang diperintahkan. Seandainya berwudhu dengan tidak tertib itu dibolehkan, tentulah beliau meninggalkan sebagian keadaan untuk menjelaskan kebolehannya, sebagaimana beliau meninggalkan pengulangan bilangan wudhu di beberapa waktu.” (1/484)



***

وسننه عشرة أشياء : التسمية٬ وغسل الكفين قبل إدخالهما الإناء٬ والمضمضة٬ والاستنشاق٬ ومسح جميع الرأس٬ ومسح الأذنين: ظاهرهما وباطنهما بماء جديد٬ وتخليل اللحية الكثة٬ وتخليل أصابع اليدين والرجلين٬ وتقديم اليمنى على اليسرى٬ والطهارة ثلاثا ثلاثا٬ والموالاة٠

Sunnah wudhu ada sepuluh, yaitu:
1.      Mengucap basmalah.
2.      Membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam wadah air.
3.      Berkumur-kumur.
4.      Istinsyaaq, yaitu menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya kembali.
5.      Mengusap semua bagian wajah.
6.      Mengusap kedua telinga, meliputi bagian dalam dan luar, dengan menggunakan air yang baru.
7.      Menyela jenggot yang tebal serta menyela jemari kedua tangan dan kedua kaki.
8.      mendahulukan anggota yang kanan dari yang kiri.
9.      Mencuci dan membersihkan setiap anggota wudhu masing-masing tiga kali.
10.  Muwaalaah, yaitu dilakukan beruntun (tanpa diselingi perbuatan lainnya).

***

Penjelasan :

1.      Mengenai sunnah mengucap basmalah, Nasa’i (1/61) meriwayatkan dengan isnad jayyid dari Anas -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Beberapa orang sahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mencari air wudhu, tetapi mereka tidak mendapatkannya. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda, ‘Apakah salah seorang diantara kalian memiliki air?’ Kemudian dibawakanlah air dan diletakkan di tangan beliau bejana yang berisi air. Kemudian beliau berkata, ‘Berwudhulah dengan menyebut asma Allah!’ “Artinya, berwudhulah seraya mengucapkannya. Saya pun melihat air mengalir diantara jari-jarinya sehingga sekitar tujuh puluh orang bisa berwudhu.”

2.      Dalil disunnahkannya membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam wadah air, berkumur-kumur, istinsyaaq, dan mengusap semua bagian wajah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari (183) dan Muslim (235) dari Abdullah bin Zaid -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa dia ditanya tentang wudhu Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Kemudian dia meminta air seember dan memperlihatkan kepada mereka wudhu Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Dia menuangkan air ke tangannya dari ember, kemudian membasuhnya tiga kali. Kemudian dia memasukkan tangannya kedalam ember, setelah itu berkumur-kumur, istinsyaaq (memasukkan air ke dalam hidung) dan istintsaar (mengeluarkan air dari hidung) sebanyak tiga kali. Kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam ember, lalu membasuh wajahnya tiga kali dan membasuh kedua tangannya dua kali sampai ke siku. Kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam ember, lalu mengusap kepalanya. Dia mengusap ke depan dan ke belakang sekali. Kemudian dia membasuh kedua kakinya sampai ke kedua mata kakinya.

3.      Mengenai sunnah mengusap kedua telinga, Tarmidzi (36) meriwayatkan dan menilai shahih sebuah hadits dari Ibnu Abbas -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengusap kepalanya dan kedua telinganya, meliputi bagian dalam dan luarnya. Nasa’i (1/151) meriwayatkan, “Beliau mengusap kepalanya dan kedua telinganya. Bagian dalam telinga dengan telunjuk, sedangkan bagian luar telinga dengan jempol.”

Hakim (1/151) meriwayatkan dari hadits Abdullah bin Zaid -rodhiyallohu ‘anhu- tentang tata cara wudhu Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-. “Beliau berwudhu dan mengusap kedua telinganya bukan dengan air yang digunakannya untuk mengusap kepalanya.” Imam Adz-Dzahabi berkata, “Hadits ini shahih.”

4.      Mengenai sunnah menyela jenggot yang tebal, Abu Dawud (145) meriwayatkan hadits dari Anas -rodhiyallohu ‘anhu-, “Jika Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam­- berwudhu, beliau mengambil setelapak tangan air, kemudian memasukkannya ke bawah mulutnya dan menyela jenggotnya. Setelah itu, beliau bersabda, ‘Beginilah Tuhanku memerintahkanku’.”

5.      Mengenai sunnah menyela jemari tangan dan kaki, dari Laqith bin Shabrah -rodhiyallohu ‘anhu- berkata, “Wahai Rosululloh, beri tahulah aku tentang wudhu!” Beliau menjawab,

أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّل ْبَيْنَ اْلأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْتَكُونَ صَاِﺌمًا٠

Sempurnakanlah wudhu. Selalah diantara jari-jari. Masukkanlah air ke dalam hidung kecuali ketika engkau sedang berpuasa. (HR. Abu Dawud 142 dan dinilai shahih oleh Tirmidzi 38 dan selain keduanya).

Sempurnakanlah maksudnya adalah sempurnakan dengan rukun-rukun dan sunnah-sunnahnya.

6.      Mengenai sunnah mendahulukan anggota yang kanan dari kiri, Bukhari (140) meriwayatkan dari Ibnu Abbas -rodhiyallohu ‘anhuma- bahwa dia berwudhu. Di dalam riwayat itu disebutkan bahwa dia kemudian mengambil setelapak tangan air dan membasuh tangan kanannya. Kemudian dia mengambil setelapak tangan air dan membasuh tangan kirinya. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian dia mengambil setelapak tangan air dan membasuh kaki kanannya. Kemudian dia mengambil setelapak tangan air dan membasuh kaki kirinya. Kemudian dia berkata, “Beginilah saya melihat Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- berwudhu.”

7.      Mengenai sunnah mencuci dan membersihkan setiap anggota wudhu masing-masing tiga kali, Muslim (230) meriwayatkan bahwa Utsman -rodhiyallohu ‘anhu- berkata, “maukah kalian jika saya tunjukan wudhu Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-?” Kemudian dia berwudhu tiga kali tiga kali.

8.      Dalil sunnah muwaalaah adalah mengikuti hadits-hadits sebelum ini.

9.      Semua dalil yang terdapat dalam kitab-kitab Sunan tentang sunnah-sunnah wudhu secara lahiriah menunjukan wajib. Akan tetapi, dalil ketidakwajibannya terdapat dalam ayat wudhu yang menunjukan bagian-bagian yang diwajibkan serta dalil-dalil lainnya. Kami tidak menyebutkannya di sini karena khawatir akan memperpanjang pembahasan.

10.  Setelah wudhu disunnahkan untuk membaca do’a berikut,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ واجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ٠ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ٠

Saya bersaksi bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Saya bersaksi (juga) bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikan pula aku termasuk orang-orang yang suci. Ya Allah, Maha Suci Engkau. Segala puji hanyalah milik-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada yang berhak disembah kecuali hanya Engkau. Saya memohon ampunan kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.

Kumpulan do’a ini dinukil Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- dalam hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (234), Tirmidzi (55), dan Nasa’i di bagian “Amalan-amalan siang dan malam”.

Wallohu A'lam Bishshowab.
Alhamdulillaahirobbil-'alamiin

Assalaamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


<'@II<  maH-Taj  ^_^ !!   (12 Robi'ul Akhir 1432 H)

0 PENDAPAT:

Poskan Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates