Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Senin, 07 Maret 2011

Kitab Thaharah - Penyamakan Kulit Bangkai

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim


 ***

وجلود الميتة تطهر بالدباغ٬ إلا جلد الكلب والخنزير وماتولد منهما أومن أحدهما٠ وعظم الميتة وشعرها نجس إلا الآدمي٠

Kulit bangkai binatang bisa menjadi suci dengan disamak, kecuali kulit anjing dan babi serta benda-benda yang bersumber dari keduanya atau salah satu dari keduanya. Tulang dan bulu bangkai adalah najis kecuali mayat manusia.

***


Penjelasan:

1.    Muslim (366) meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas -rodhiyallohu ‘anhuma-, bahwa dia mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا دُبِغَ اْلإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ٠
Jika kulit disamak, amak ia menjadi suci

Disamak artinya dihilangkan bagian lembabnya yang akan merusak keawetannya. Yaitu, jika setelah itu direndam di dalam air, maka bau busuknya tidak akan kembali.

2.     Kulit bangkai anjing dan babi tidak menjadi suci meski disamak karena keduanya najis ketika masih hidup sehingga ketidaksuciannya setelah mati adalah lebih utama.

3.      Dasar najisnya tulang dan bulu bangkai adalah firman Allah -subhaanahu wata’ala-,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ
"Diharamkan bangkai bagi kalian" (Q.S. Al-Maidah [5]: 3)

Bangkai adalah semua hewan yang mati bukan dengan penyembelihan secara syar’i. Oleh karena itu, termasuk juga bangkai adalah binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya jika disembelih, seperti keledai, dan binatang yang sebenarnya boleh dimakan dagingnya namun syarat-syaratnya tidak terpenuhi, seperti sembelihan orang yang murtad, walaupun tidak membahayakan kesehatan. Artinya, diharamkannya bangkai adalah tanda kenajisannya karena pengharaman sesuatu yang tidak ada bahayanya dan tidak ada kemuliaannya adalah tanda kenajisannya. Kenajisannya diikuti oleh kenajisan bagian-bagiannya.

Adapun manusia, maka mayatnya tidak najis, begitu juga bagian-bagiannya. Hal ini berdasarkan firman Allah -Subhanahu Wata’ala-, “Kami telah memuliakan anak adam.” (Al-Israa’ [17]: 17). Ini kontradiksi dengan pendapat yang mengatakan kenajisannya setelah kematiannya. Diharamkan memakan dagingnya adalah karena kemuliaannya.

Wallohu A'lam Bishshowab

Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin

Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

<'@II<   maH-Taj   ^_^ !!   (01 Robi'ul Alhir 1432 H)

0 PENDAPAT:

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates