Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Jumat, 04 Maret 2011

Kitab Thaharah - Macam-macam Air

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim

***

المياه التي يجوزبها التطهير سبع مياه ׃ ماء السماء، وماء البحر، وماء النهر، وماء البئر، وماء العين، وماء الثلج، وماء البرد 

Air yang boleh digunakan untuk bersuci ada tujuh, yaitu: air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air salju, dan air embun.

***

Penjelasan :
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa bersuci itu bisa dilakukan dengan setiap air yang keluar dari bumi dan turun dari langit. Dasar bolehnya bersuci dengan air ini adalah:

·        Firman Allah Ta’ala

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ اۘلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَ كُم بِه ۦ
Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikanmu dengan hujan itu.
(Q.S. Al-Anfal [8]: 11)

·        Hadits riwayat Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘Anhu, dia berkata bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rosululloh, “ya Rosululloh, kami pernah berlayar di lautan dan membawa sedikit air. Jika berwudhu dengannya, kami akan kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut?” Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

ھُوَ الطَّهُورُ مَاٶُهُ اْلحِلُّ مَيْتَتُهُ
Laut itu suci airnya dan halal bangkainya. (HR. Imam hadits yang lima)
Tirmidzi (69) berkata , “Derajat hadits ini adalah hasan shahih.”

Halal bangkainya artinya adalah boleh dimakan binatang yang mati di dalamnya, seperti ikan dan selainnya, tanpa harus disembelih secara syar’i.


 ***
ثم المياه على أربعة أقسام ׃ طاهرمطهر غير مكروه، وهو الماء المطلق ٠وطاهر مطهر مكروه٬ وهوالماء المشمس٠ وطاهرغيرمطهر٬ وهوالماء المستعمل٬ والمتغير بما خالطه من الطاهرة٠ وماءنجس٬ وهوالذي حلت فيه نجاسة٬ وهودون القلتين٬ أوكان قلتين فتغير٠ والقلتان خمسمائة رطل بغدادي تقريبا في الأصح٠

Kemudian, kedudukan air itu dibagi menjadi empat:

1.      Air yang suci dan menyucikan serta tidak makruh untuk bersuci . Air itu disebut air muthlaq.
2.      Air Suci dan menyucikan yang makruh, yaitu air musyammas.
3.      Air suci namun tidak menyucikan, yaitu air musta’mal dan air yang berubah karena bercampur dengan benda-benda suci lainnya.
4.      Air najis, yaitu air yang bercampur benda najis dan jumlahnya tidak sampai dua qullah atau mencapai dua qullah namun berubah. Ukuran dua qullah air kira-kira berjumlah lima ratus liter Baghdad berdasarkan pendapat paling benar.

***


Penjelasan :

1.      Dasar kesucian air muthlaq adalah hadits yang diriwayatkan oleh bukhori (217) dan selainnya dari Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata bahwa seorang arab badui kencing di mesjid. Kemudian orang-orang menghampirinya untuk menghardiknya. Maka Nabi –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

دَعُوهُوَهَرِيقُواعَلىبَوْلِهِ سَجْلا ًمِنْ مَاءٍ أَوْذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِيْنَ٠

Biarkanlah ia dan siramkanlah seember air ditempat kencingnya itu. Sesungguhnya kalian diutus untuk menjadi orang-orang yang memudahkan, bukan menjadi orang-orang yang menyusahkan.

Maksud menghardiknya adalah memperingatkannya dengan perkataan dan perbuatan.

2.     Air musyammas adalah air yang dipanaskan dalam bejana logam dengan memakai panas matahari. Menurut saebuah pendapat, sebab kemakruhannya adalah karena bisa menyebabkan penyakit kusta atau lebih. Hukum makruhnya hanya berlaku jika digunakan untuk badan di negeri yang panas, seperti Hijaz.

3.     Air musta’mal adalah air yang telah dipakai (bekas) untuk menghilangkan hadats. Dalil kesuciaannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (191) dan Muslim (1616) dari Jabir bin Abdillah -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Rosululloh mendatangiku ketika aku sakit dan hampir tak sadarkan diri. Beliau berwudhu dan menuangkan air bekas wudhunya kepadaku.”
Maksud hampir tak sadarkan diri adalah karena parahnya sakit yang diderita. Jika airnya tidak suci, maka beliau tidak akan menuangkannya kepada Jabir bin Abdillah.
Dalil bahwa air musta’mal tidak menyucikan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (283) dan selainnya dari Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَيَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّاِﺋمِ وَهُوَ جُنُبٌ٠

Janganlah salah seorang diantara kalian mandi di air yang tergenang (tidak mengalir) ketika dalam keadaan junub.

Para sahabat bertanya , “wahai Abu Hurairah, apa yang harus dilakukan?” Dia menjawab, “Orang tersebut harus mengambil air seciduk demi seciduk.”

Hadits ini menunjukan bahwa mandi di air tersebut akan menghilangkan kesuciannya. Jika hukumnya tidak seperti itu, maka ia tidak akan dilarang. Hukum wudhu dalam hal ini sama dengan hukum mandi karena hakikatnya sama, yaitu menghilangkan hadats.

4.    Termasuk air suci namun tidak menyucikanadalah air yang berubah karena bercampur dengan benda-benda suci lainnya. Benda suci disini maksudnya adalah benda yang biasanya tidak dibutuhkan oleh air dan tidak mungkin memisahkannya jika telah bercampur dengan air. Misalnya misk, garam, dan lainnya. Semua ini tidak menyucikan karena ia tidak dinamakan air lagi dalam keadaan seperti ini.

5.      Mengenai air yang jumlahnya tidak sampai 2 qullah, imam hadits yang lima meriwayatkan dari Abdullah bin Umar -rodhiyallohu ‘anhuma-, dia berkata: Saya mendengar Rosululloh -Shollallohu ‘Alaihi Wasallah- bersabda ketika beliau ditanya tentang air yang berada di padang pasir yang diminum oleh binatang-binatang buas dan binatang-binatang ternak. Beliau menjawab:

ٳِذَا كَانَ اْلمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ اْلخَبَثَ٠

Jika airnya mencapai dua qullah, maka ia tidak mengandung najis.
Dalam lafazh Abu Dawud (65) dikatakan, “Ia tidak menjadi najis.”

Binatang buas adalah setiap hewan yang memiliki taring yang digunakan untuk memburu hewan-hewan lainnya.

Kesimpulan hadits ini adalah jika air tidak sampai dua qullah, maka ia menjadi najis walaupun tidak berubah. Pemahaman ini ditunjukan oleh hadits riwayat Muslim (278) dari Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

ٳِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِي اْلإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَيَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ٠

Jika salah seorang diantara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah memasukkan tangannya ke dalam bejana sampai mencucinya tiga kali karena dia tidak tahu di mana tangannya bermalam.

Orang yang bangun tidur dilarang memasukkan tangannya ke dalam bejana karena khawatir tangannya kotor oleh najis yang tidak kelihatan. Sebagaimana diketahui, najis yang tidak kelihatan tidak akan menyebabkan air berubah. Jika bukan karena najis yang tidak kelihatan itu menyebabkan air menjadi najis hanya dengan persentuhannya, maka hal itu tidak akan dilarang.

6.      Dalil najisnya air yang bercampur benda najis dan jumlahnya tidak sampai dua qullah atau mencapai dua qullah namun berubah adalah ijma’. Dikatakan dalam Al-Majmu’ bahwa Ibnul Mundzir mengatakan, “Para ulama bersepakat bahwa air yang sedikit atau banyak jika bercampur dengan najis, kemudian mengubah rasa, warna, atau baunya, maka air itu najis.”

Adapun hadits,

المَاءُ طَهُوْرٌ لاَيُنَجِّسُهُ شَيْٸٌ إِلاِّ مَاغَيَّرَ لَوْنَهُ أَوْطَعْمَهُ أَوْرِيْحَهُ

Air thahur (suci dan menyucikan) itu tidak menjadi najis oleh apapun kecuali benda yang mengubah warna, rasa, dan baunya.

Hadits ini dhoif sekali. Imam Nawawi -rodhiyallohu ‘anhu- mengomentarinya, “Tidak sah berhujjah dengan hadits ini.” Dia melanjutkan, “Imam Syafi’i menukil kedha’ifannya dari ulama yang ahli dalam bidang hadits.” (Al-Majmu’ 1/60)

7.      2 qullah kira-kira sepadan dengan 190 liter atau luas kubus yang panjang sisinya 58 cm.


Sumber: Kitab At-Taqrib karya Imam Abu Syuja' dan Kitab At-Tadzhiib Fii Adillah Matan Al-Ghaayah wa At-Taqriib karya Prof. Dr. Musthafa Dib Al-Bugha.
Wallohu A'lam Bishshowab

Alhamdulillaahirobbil-'aalamiin

Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


<'@II<  maH-Taj   ^_^ !!   (29 Robi'ul Awal 1432 H)

0 PENDAPAT:

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates