Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang


Dengan segala rasa CINTA dan RINDU kepada Junjungan kita semua, Kanjeng Nabi Muhammad -Shollalloohu 'Alaihi Wasallam-. Mari kita semua bersholawat,

اللـّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلـِّمْ عَلـَى سَـيِّـدِنـَا مُحَمَّدٍ وَّعَلـَى اٰلِهِ وَصَحْبـِهِ اَجْمَعِيْنَ


Semoga Hidup Kita Menjadi Lebih Barokah
Semoga Menjadi Insan yang dapat mempertahankan dan kian meningkatkan ibadah untuk memperoleh Ridho Allah -Subhaanahu Wata'ala-
Semoga kita semua dipertemukan dengan Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- dan kelak mendapatkan Syafa'at Agung dari beliau di Akhirat.
Ammiin...

<'@II< maH-Taj ^_^ !!


Selasa, 29 Maret 2011

Kitab Thaharah - Adab Membuang Hajat


 Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Bismillaahirrohmaanirrohiim

***

ويجتنب استقبال القبلة واستدبارها في الصحراء٬ ويجتنب البول والغائط في الماء الراكد ٬وتحت الشجرة المثمرة٬ وفي الطريق والظل٬ والثقب٬ ولايتكلم على البول والغائط٬ ولايستقبل الشمس والقمر ولايستدبرهما٠

Tidak boleh membuang hajat di tempat terbuka dengan menghadap kiblat atau membelakanginya. Tidak boleh membuang air kecil maupun air besar di air yang menggenang, di bawah pohon yang berbuah, di jalanan dan tempat orang berteduh serta pada lubang. Tidak boleh berbicara ketika buang air kecil maupun air besar. Tidak boleh pula menghadap matahari dan bulan serta membelakangi keduanya.

***

Penjelasan:

1.      Mengenai larangan membuang hajat di tempat terbuka dengan menghadap kiblat atau membelakanginya , Bukhari (386) dan Muslim (264) meriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshary -rodhiyallohu ‘anhu- dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,

إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْغَرِّبُوا٠

Jika kalian membuang hajat, maka jangan menghadap kiblat dan membelakanginya, tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.

Ini dikhususkan di padang pasir dan tempat-tempat yang tidak ada penutupnya. Dalil pengkhususannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari (148) dan Muslim (266) serta selain keduanya dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhuma-, dia berkata, “Saya menaiki atap rumah Hafshah untuk beberapa kebutuhanku. Kemudian saya melihat Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- membuang hajatnya dengan membelakangi kiblat dan menghadap ke Syam.”

Hadits pertama adalah untuk tempat yang tidak dipersiapkan untuk membuang hajat dan tempat yang tercakup dalam kandungan maknanya, yaitu tempat-tempat yang tidak ada penutupnya. Hadits kedua adalah untuk tempat yang dipersiapkan untuk membuang hajat dan tempat yang tercakup dalam kandungan maknanya. Ini adalah bentuk penggabungan diantara dalil-dalil yang ada. Bisa jadi hukumnya menjadi makruh jika melakukannya di tempat yang tidak dipersiapkan untuk membuang hajat, tetapi ada tutupnya.

2.      Mengenai larangan tidak boleh membuang air kecil maupun air besar di air yang menggenang, Muslim (281) dan selainnya meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah -rodhiyallohu ‘anhu- dari Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau melarang buang air kecil di air yang tidak mengalir. Buang air besar lebih jorok dan lebih utama untuk dilarang. Larangan di sini adalah makruh. Dinukil dari Iman Nawawi bahwa larangan di sini adalah pengharaman. (Silahkan lihat Syarh Muslim 3/187).

3.      Mengenai larangan membuang hajat di jalanan dan tempat orang berteduh, Muslim (269) dan selainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ٠ قَالُوا : وَمَا اللَّعَّاَنَانِ٬ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ : الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ٠

Takutlah dengan dua laknat.” Para sahabat bertanya, “Apakah dua laknat itu, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab, “Orang yang buang air besar di jalan manusia dan tempat mereka berteduh

Dua laknat maksudnya adalah dua perkara yang akan mendatangkan laknat.

4.      Mengenai larangan membuang hajat di lubang, Abu Dawud (29) dan selainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Sarjis -rodhiyallohu ‘anhu-, dia berkata, “Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- melarang buang air kecil di lubang.”

5.      Mengenai larangan berbicara ketika buang hajat, Muslim (370) dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhu- bahwa seorang laki-laki melewati Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- ketika beliau sedang buar air kecil. Kemudian laki-laki ini mengucapkan salam kepadanya, tetapi beliau tidak menjawabnya.

Abu Dawud (15) dan selainnya juga meriwayatkan dari Abu Sa’id -rodhiyallohu ‘anhu-, bahwa dia mendengar Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَيَخْرُجْ الرَّجُلاَنِ يَضْرِبَانِ الْغَائِطَ كَاشِفَيْنِ عَنْ عَوْرَتِهِمَا يَتَحَدَّثَانِ فَإِنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ يَمْقُتُ عَلَى ذٰلِك٠

Janganlah dua orang laki-laki membuang hajat dengan saling menampakkan aurat dan saling berbicara. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memurkai hal itu.

6.      Mengenai larangan menghadap matahari dan bulan serta membelakangi keduanya, Imam Nawawi menyebutkan di dalam Al-Majmu’ (1/30) bahwa hadits yang menyatakan hal ini adalah dha’if, bahkan batil. Hukum yang benar dan masyhur adalah makruh menghadap keduanya, bukan membelakanginya. Al-Khatib berkata dalam Al-Iqnaa’ (1/46), “Pendapat inilah yang dipegang.”

7.      Disunnahkan bagi orang yang membuang hajat untuk mengucapkan dzikir-dzikir dan do’a-do’a yang berasal dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- sebelum masuk ke dalam toilet dan setelah keluar.

Sebelum masuk, ucapkanlah,

بِسْمِ اللهِ٬ اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ٠

Dengan nama Allah. Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.
(HR. Bukhari 142, Muslim 375, dan Tirmidzi 606)

Setelah keluar, ucapkanlah,

غُفْرَانَكَ٬ الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي اْلأَذَى وَعَافَنِي٬ الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَذَاقَنِي لَذَّتَهُ وَأَبْقَى فِيَّ قُوَّتَهُ وَدَفَعَ عَنِّي أَذَاهُ٠

Ya Allah, aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang menghilangkan penyakit dariku dan menyehatkanku. Segala puji bagi Allah yang membiarkanku mencicipi kenikmatan-Nya, membiarkan kekuatan-Nya berada dalam diriku, dan menghilangkan penyakit-Nya dari diriku.
(HR. Abu Dawud 30, Tirmidzi 7, Ibnu Majah 301, dan Thabrani).

Wallohu A'lam Bishshowab

Alhamdulillaahirobbil-'alamiin

Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh



<'@II<  maH-Taj   ^_^ !!          (23 Robi'ul Akhir 1432 H)

0 PENDAPAT:

Posting Komentar

Silahkan Beri Pendapat dan Komentar, jangan sungkan, ana akan sangat senang menerima saran, keritik, atau apapun itu. Silahkaaan...

yAnG IkUt bLoG iNi :

Template by:
Free Blog Templates